Konsultasi ? klik disini!

Pertanyaan: 

Assalamu’alaikum

Ustadz, mau tanya. Saya punya usaha kecil-kecilan yaitu budi daya cacing. Tapi saya bingung sebab saya dengar ada yg mengatakan jual beli cacing itu tidak boleh. Mohon penjelasanya! Dan mohon penjelasannya juga, ditempat saya di desa banyak orang jual beli kotoran sapi, saya juga mendengar katanya tidak boleh. Mohon penjelasannya! Terima kasih. Wassalam.
(Zainal, 085755××××××)

Jawab :

Wa’alaikumussalam

Mengembangbiakkan atau budi daya cacing, jangkrik, ulat dan sejenisnya diperbolehkan, karena tidak ada larangan baik secara langsung atau tidak.

Hal ini seperti disampaikan ibn Qudamah dalam kitab Al- Mughni ‘ala Syarhi Al-Kabir juz IV, hlm. 239

ولنا ان الدود حيوان طاهر يجوز اقتناؤه لتملك ما يخرج منه اشبه البهائم

“Menurut pendapat kami, ulat itu adalah binatang yang suci dan boleh membudidayakannya untuk memiliki apapun yang keluar darinya, sama seperti binatang ternak yg lain”.

HUKUM JUAL BELI CACING

Pada dasarnya jual beli apapun termasuk cacing itu BOLEH asalkan barang yg diperjualbelikan itu mempunyai MANFAAT yg diperbolehkan secara syara’.seperti cacing yg digunakan utk pakan ikan, burung dll.

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى عَدَمِ جَوَازِ بَيْعِ الْحَشَرَاتِ الَّتِي لاَ نَفْعَ فِيهَا، إِذْ يُشْتَرَطُ فِي الْمَبِيعِ أَنْ يَكُونَ مُنْتَفَعًا بِهِ، فَلاَ يَجُوزُ بَيْعُ الْفِئْرَانِ، وَالْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبِ، وَالْخَنَافِسِ، وَالنَّمْل وَنَحْوِهَا، إِذْ لاَ نَفْعَ فِيهَا يُقَابَل بِالْمَال، أَمَّا إِذَا وُجِدَ مِنَ الْحَشَرَاتِ مَا فِيهِ مَنْفَعَةٌ، فَإِِنَّهُ يَجُوزُ بَيْعُهُ كَدُودِ الْقَزِّ، حَيْثُ يَخْرُجُ مِنْهُ الْحَرِيرُ الَّذِي هُوَ أَفْخَرُ الْمُلاَبِسِ، وَالنَّحْل حَيْثُ يُنْتِجُ الْعَسَل.

وَقَال الْحَنَابِلَةُ: بِجَوَازِ بَيْعِ الدِّيدَانِ لِصَيْدِ السَّمَكِ.
Para fuqoha’sepakat tidak memperbolehkan jual beli serangga dan hewan melata yang tidak ada manfaatnya. Hal ini karena syarat barang yg diperjualbelikan haruslah barang yang BERMANFAAT …. …. Jika ditemukan adanya kemanfaatan dari hewan2 tersebut maka boleh diperjual belikan seperti ulat sutera yg menghasilkan kain sutera, lebah yg menghasilkan madu ….. Ulama madzhab Hanbali menyatakan : boleh menjual cacing utk mencari ikan… (almausu’ah al fiqhiyah al kuwaytiah) 

HUKUM JUAL BELI KOTORAN BINATANG

Dalam pandangan ulama Syafiiyah (madzhab Syafii) selain manfaat, barang yg diperjualbelikan harus suci. Maka tidak sah jual beli kotoran hewan, karena menurut madzhab syafiiyah kotoran hewan itu najis.

Sedangkan ulama Hanafiyah memperbolehkan jual beli barang najis, yang penting manfaat .

Al- Fiqhul Islamiy wa adillatuhu lisy Syaikh Al-Zuhaili juz IV/181-182

ولم يشترط الخنفية هذالشرط (ان يكون المبيع طاهرا لانجسا) فاجازوا بيع النجاسات كشعر الخنزير وجلد الميتة لانتفاع بها الا ما ورد النهي عن بيعه منها كالخمر والخنزير والميتة والدم كما اجازوا بيع الحيوانات المتوحشة والمتنجس الذي يمكن الانتفاع به في الاكل والضابط عندهم ان كل ما فيه منفعة تحل شرع فان بيعه يجوز لان الاعيان خلقت لمنفعة الانسان
Kalangan ulama Hanafi tidak mensyaratkan syarat ini (yakni, barang yang dijual itu harus suci dan bukan yang najis). Karenanya, mereka memperbolehkan jual beli barag-barang najis, seperti bulu babi dan kulit bangkai karena bisa dimanfaatkan, kecuali yang memang terdapat larangan untuk memperjual-belikannya, seperti minuman keras, bangkai, dan darah. ….. ketentuan mereka (ulama hanafiyah adalah setiap barang yg terdapat manfaat secara syara’ boleh diperdagangkan karena segala sesuatu itu diciptakan utk kemanfaatan manusia. 

KESIMPULAN

1. Budi daya cacing diperbolehkan

2. Jual beli cacing juga diperbolehkan bila untuk hal2 yang manfaat secara syara’ seperti pakan lele, burung dll

3. Jual beli kotoran hewan tidak boleh menurut madzhab Syafii. Sedangkan madzhab Hanafi boleh asal ada manfaatnya.

4. Pendapat madzhab Hanafi di atas boleh kita ikuti, asal dengan tanggung jawab dan tidak gegabah (sembrono)
Wallohu a’lam

Berbagi itu indah!

Ust. Nidhom Subkhi

Ust. Nidhom Subkhi

Khodim Ma'had Salafiyyah AsSyafi'iyyah Pulungdowo Malang.
CEO & Founder Tafaqquh Media Center Malang.
Editor in Chief Tafaqquh.com
Ust. Nidhom Subkhi

Latest posts by Ust. Nidhom Subkhi (see all)