Konsultasi ? klik disini!

MENJIWAI FIQIH DENGAN MAQOSHIDUS SYARI’AH
BY; Nidhom Subkhi

Fiqih, sebagaimana keterangan dalam tulisan-tulisan kami, (baca: )adalah hasil dari usaha maksimal untuk menerjemahkan pesan-pesan Allah yang tersebar dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun teks-teks sunnah.
Ringkasnya, fiqih berusaha mengaktualisasi firman menjadi sebuah aksi (af’alul ibad). Natijahnya, fiqih bertugas menyelaraskan aksi (af’alul ibad) dengan pesan yang dikehendaki al-kholiq.
Sebagai aktualisasi dari firman Tuhan, fiqih harus diletakkan diatas dasar “menjaga keberlangsungan misi Tuhan”.
Terasa aneh, jika fiqih berjalan sendiri diluar koridor ‘misi Tuhan’. Dan lucu juga ketika sebuah hukum ditetapkan tanpa arah tujuan yang jelas atau dengan tujuan yang tidak sesuai dengan tujuan sang pembuat hukum itu sendiri.
Maka dari itu, fiqih tidak bisa lepas dari misi Tuhan yang dalam bahasa ushul diistilahkan dengan MAQOSHIDUS SYARI’AH.

TERMINOLOGI
Maqoshid adalah bentuk plural dari kata maqshod atau maqshid. Akar katanya adalah qoshd. Secara bahasa, qoshd mempunyai beberapa arti. Maqshod bisa berarti menuju, tempat tujuan, bisa pula berarti al-ghoyah wal-fahwa, yakni puncak atau tujuan akhir (Almaany.com).
Ibnul Mandhur dalam lisanul Arab menyitir perkataan Ibnu Janniy bahwa qashoda asal penempatannya dalam kalam Arab adalah untuk menunjuk makna menghendaki, menuju, dan bangkit (nuhudl). sedangkan pengertian maqoshidus syari’ah dalam disiplin ilmu ushul fiqih belum pernah didefinisikan secara jami’ mani’ oleh para ulama’ terdahulu. Para ulama’ mendefinisikan maqoshidus syari’ah sebagai nilai, tujuan, atsar, dan hasil dimana titah syara’ dan beban taklif berhubungan dengan hal-hal tersebut. Syariat menghendaki terwujudnya hal tersebut.

Berbagi itu indah!

Ust. Nidhom Subkhi

Ust. Nidhom Subkhi

Khodim Ma'had Salafiyyah AsSyafi'iyyah Pulungdowo Malang.
CEO & Founder Tafaqquh Media Center Malang.
Editor in Chief Tafaqquh.com
Ust. Nidhom Subkhi

Latest posts by Ust. Nidhom Subkhi (see all)