Konsultasi ? klik disini!

ISTILAH-ISTILAH FIQIH SEBAGAI INDIKATOR PENDAPAT YG DIJADIKAN SEBAGAI PIJAKAN HUKUM DAN YANG TERILIMINASI ( Bagian III )

  1. Redaksi قيل

mengindikasikan adanya khilaf, redaksi qiil berstatus lemah, dan khilaf terjadi di antara para pengikut Imam As-Syafi’i (ashab), dan khilaf berupa satu tinjauan analisis (wajah) dari beberapa wajah Ashab bukan satu pendapat dari beberapa pendapat Imam As-Syafi’i.

Muqobilnya berupa pendapat Al-Asshoh atau As-Shohih yg dijadikan pijakan untuk mengungkapkan versi wajah di kalangan ashab.

  1. Redaksi الأوجه

mengindikasikan bahwa khilaf terja di lebih dari satu wajah dikalangan ashab.

Muqobilnya berstatus Marjuh, berupa Al-Al-Asshoh atau As-Shohih.

  1. Redaksi المذهب

mengindikasikan bahwa khilaf terjadi di kalangan para Ashab mengenai periwayatan madzhab. sebagian ashab menganggap terdapat khilaf dalam madzhab, seperti adanya dua pendapat (qoul) atau dua wajah (tinjauan analisa) dalam satu kasus.

sebagian ashab menganggap tidak terdapat khilaf, sebagian menyatakan pendapat yg bersifat pasti (qot’i), sebagian lagi menilai terdapat khilaf lebih dari dua pendapat, sebagian berasumsi khilaf, berupa wajah dan qoul.

status redaksi Al-Madzhab adalah kuat (Rojih) dan dijadikan pijakan berfatwa.

sedang status Muqobilnya adalah terungguli (Marjuh) tidak dapat diamalkan.

  1. Redaksi النص

mengindikasikan bahwa khilaf terjadi pada pendapat2 Imam As-Syafi’i. an-nash berstatus rojih/kuat pada khilaf yg muncul dari Imam As-Syafi’i.

Muqobilnya sangat lemah sekali, atau berupa pendapat yg dianggap menyimpang (qoul mukhorroj) dari nash dgn menitik beratkan pada persamaan masalah yg ada.

Muqobil An-Nash tidak dpat dijadikan tendensi untuk beramal.

  1. Redaksi المنصوص

mengindikasikan bahwa hal tsb bisa jadi berupa pendapat Imam As-Syafi’i atau Nash beliau atau mungkin wajah para pengikut Imam As-Syafi’i.

Al-Manshus berstatus rojih dalam khilaf yg terjadi, dan Muqobilnya berstatus lemah tidak bisa dijadikan pijakan amal.

  1. Redaksi في وجه كذا

mengindikasikan bahwa khilaf terjadi di kalangan para Ashab, dan khilaf terjadi pada tiga wajah atau lebih.

redaksi wajah spt di atas di anggap lemah dan Muqobilnya berupa pendapat Al-Asshoh atau As-Shohih yg bisa diamalkan.

  1. Redaksi على المعتمد

menurut Ibnu Hajar, yg dimaksudkan adalah pendapat Al-Adzhar di antara dua pendapat Imam As-Syafi’i, atau diantara pendapat-pendapat beliau.

  1. Redaksi على الأوجه

menurut Ibnu Hajar, yg dimaksudkan adalah pendapat Al-Asshoh di antara dua wajah atau lebih di kalangan Ashab.

  1. Redaksi الأوجه

mengindikasikan bahwa khilaf terja di lebih dari satu wajah dikalangan ashab.

Muqobilnya berstatus Marjuh, berupa Al-Al-Asshoh atau As-Shohih.

  1. Redaksi المذهب

mengindikasikan bahwa khilaf terjadi di kalangan para Ashab mengenai periwayatan madzhab. sebagian ashab menganggap terdapat khilaf dalam madzhab, seperti adanya dua pendapat (qoul) atau dua wajah (tinjauan analisa) dalam satu kasus.

sebagian ashab menganggap tidak terdapat khilaf, sebagian menyatakan pendapat yg bersifat pasti (qot’i), sebagian lagi menilai terdapat khilaf lebih dari dua pendapat, sebagian berasumsi khilaf, berupa wajah dan qoul.

status redaksi Al-Madzhab adalah kuat (Rojih) dan dijadikan pijakan berfatwa.

sedang status Muqobilnya adalah terungguli (Marjuh) tidak dapat diamalkan.

  1. Redaksi النص

mengindikasikan bahwa khilaf terjadi pada pendapat2 Imam As-Syafi’i. an-nash berstatus rojih/kuat pada khilaf yg muncul dari Imam As-Syafi’i.

Muqobilnya sangat lemah sekali, atau berupa pendapat yg dianggap menyimpang (qoul mukhorroj) dari nash dgn menitik beratkan pada persamaan masalah yg ada.

Muqobil An-Nash tidak dpat dijadikan tendensi untuk beramal.

  1. Redaksi المنصوص

mengindikasikan bahwa hal tsb bisa jadi berupa pendapat Imam As-Syafi’i atau Nash beliau atau mungkin wajah para pengikut Imam As-Syafi’i.

Al-Manshus berstatus rojih dalam khilaf yg terjadi, dan Muqobilnya berstatus lemah tidak bisa dijadikan pijakan amal.

  1. Redaksi في وجه كذا

mengindikasikan bahwa khilaf terjadi di kalangan para Ashab, dan khilaf terjadi pada tiga wajah atau lebih.

redaksi wajah spt di atas di anggap lemah dan Muqobilnya berupa pendapat Al-Asshoh atau As-Shohih yg bisa diamalkan.

  1. Redaksi على المعتمد

menurut Ibnu Hajar, yg dimaksudkan adalah pendapat Al-Adzhar di antara dua pendapat Imam As-Syafi’i, atau diantara pendapat-pendapat beliau.

  1. Redaksi على الأوجه

menurut Ibnu Hajar, yg dimaksudkan adalah pendapat Al-Asshoh di antara dua wajah atau lebih di kalangan Ashab.

  1. Redaksi ان صح هذا فكذا

Secara lahiriyah redaksi di atas mengindikasikan ketidak setujuan Imam An-Nawawi mengenai pendapat itu.

  1. Redaksi الإختيار والمختار

Mengindikasikan pendapat dari hasil penemuan ulama yg memilih pendapat tsb dgn upaya analisis secara detail dari kaidah2 pokok fiqih.

status pendapat dgn redaksi di atas dianggap keluar dari pendapat madzhab, tidak bisa dijadikan pedoman.

jika redaksi di atas terdapat dalam ungkapan Imam An-Nawawi dalam kitab Roudlohnya, maka mempunyai makna Al-Asshoh versi Al-Madzhab kecuali mengenai masalah air musyammas.

  1. Redaksi ذكره الأذرعي

yang dimaksud adalah bahwa pendapat tersebut didasarkan pada penilaian beliau sendiri.

  1. Redaksi نبه عليه الأذرعي

yang dimaksud bahwa pendapat tersebut telah diketahui dari komentar para pengikut Imam As-Syafi’i, beliau hanya sebatas mengingatkan kembali mengenai pendapat itu.

  1. Redaksi قال بعض العلماء

Redaksi ini digunakan jika ulama yg menukil masih hidup dan kemungkinan pendapat tersebut dicabut kembali oleh penukil.

jika ulama tersebut telah meninggal dunia maka bentuk redaksi dgn menyebutkan nama secara langsung.

  1. Redaksi وقع لفلان كذا

Bentuk Redaksi seperti ini berstatus lemah, kecuali jika redaksi tsb dianologikan dgn masalah yg telah dikuatkan, maka statusnya beralih menjadi kuat/Rojih.

  1. Redaksi سكت عليه

mengindikasikan sepakat.

  1. Redaksi أقره فلان

mengindikasikan bahwa tidak ada penolakan mengenai pendapat itu, seperti pernyataan sangat yakin akan kebenaran pendapat tsb.

  1. Redaksi زعم فلان

mengandung arti ; berkomentar, namun sering diterapkan pada pendapat yg masih diragukan.

  1. Redaksi فيه بحث

untuk mengomentari permaslahan yg didalamnya berpotensi kuat, baik jawaban dari permasalahan tsb sudah mengalami tahqiq (mengkaji lebih dalam) atau belum.

  1. Redaksi لقائل

berpotensi lemah atau sangat lemah, jika pertanyaan berpotensi kuat (; mampu mengkritisi jawaban)

  1. Redaksi قيل ويقال ولا يبعد ويمكن

bentuk kalimat yg menyatakan cacat (tamriid) karena lemahnya jawaban (madlul)

المصدر : الخزائن السنية للشيخ عبد القادر المنديلي

Wallahu a’alam bis showab

Bersambung

* Penulis adalah aktifis kajian-kajian ilmiyah diniyah dan bahtsul masail. Alumni PP. Lirboyo Kediri. Tinggal di Malang