Konsultasi ? klik disini!

Kajian tafsir – 1

Tafsir Basmalah (bagian pertama)

Oleh: Nidhom Subkhi Rifa’i

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang

 

Sahabat tafaqquh, sekalipun pembahasan tafsir Basmalah sudah banyak disampaikan, baik melalui majlis-majlis ta’lim, halaqoh-halaqoh maupun melalui tulisan-tulisan termasuk media masa, media sosial yang saat ini amat mudah kita akses. Redaksi tafaqquh.com sebagai media yang “baru lahir” sepakat untuk menjadikan basmalah sebagai salah satu kajian pembuka, mendahului kajian-kajian yang lain. Untuk itu dalam edisi perdana tafsir ahkam ini kami, redaksi tafaqquh.com mempersembahkan tafsir basmalah kepada para pengunjung. Semoga dengan pembahasan ini tafaqquh.com dan juga halaqoh tafaqquh fiddin (kegiatan offline tafaqquh.com) mendapatkan keberkahan dari kalimat suci ini, begitu juga dengan para pembaca dan pengunjung semua, dan tentunya ……. semoga anda berkenan. Amiin

Bismillah, miwiti ingsung…

Tahlil Lafdhi

Basmalah adalah ucapan bismillah. Pembentukan kata basmalah dari ucapan bismillah ini dalam literatur bahasa Arab disebut naht (lebih jauh tentang naht lihat attahrir wat tanwir: I/77).

Sepintas dilihat dari tulisannya, basmalah terdiri dari empat kata, yaitu bismi, Allahi, arrahmani, arrahimi. Namun sebenarnya ia terdiri dari lima kata, karena Bi dihitung satu kata atau satu kalimah dalam gramatika Arab atau nahwu.

  1. Bi :

    Dalam bahasa Indonesia Bi sering diterjemahkan “dengan” dan tampaknya kata inilah yang mendekati makna aslinya, sekalipun Bi itu tidak selalu berarti “dengan”.  Bi adalah kalimat huruf dalam sub bagian huruf jer. Huruf jer selalu mempunyai ta’alluq atau hubungan dengan kalimat lain, hal ini karena kalimat huruf itu tidak bisa berdiri sendiri. Kalimat yang menjadi ta’alluqnya Bi pada bismillah ini dibuang. Sebagian ulama’ ada yang mentaqdirkan (mengira-ngirakan adanya kalimat) ibda’ yang artinya “mulailah” seperti pendapat Abu Bakar al-Jasshos (Ahkamul Qur’an: I/10), sehingga makna bismillah menjadi “mulailah dengan menyebut nama Allah”, ada pula yang mentaqdirkan kata abtadiu yang berarti “aku memulai”, dengan begitu bismillah berarti “aku memulai dengan menyebut nama Allah”.

    Ibnu Jarir At-Thobari dan Ibnu Katsir berpendapat:

    Bismillah bisa dita’alluqkan dengan fi’il apa saja sesuai dengan keadaan orang yang membacanya untuk mengharap keberkahan (tabarruk), kebaikan (tayammun) serta memohon pertolongan (isti’anah) agar bisa menyempurnakan pekerjaan dan juga mengharap diterimanya pekerjaan (amal) tersebut. Jika ia membaca basmalah ketika berdiri maka artinya “saya berdiri dengan menyebut nama Allah”, ketika duduk maka artinya menjadi “saya duduk dengan menyebut nama Allah”, begitu seterusnya. Pendapat ini berdasarkan hadits Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari riwayat Ibnu Abbas, “Sesungguhnya pertama kali malaikat Jibril turun kepada Nabi Muhammad ﷺ  Ia berkata kepada Nabi ﷺ , Wahai Muhammad ﷺ katakan asta’idzu bissami’il’alimi minassyathonirrojim, kemudian Jibril berkata, katakan bismillahirrohmanirrohim. Ibnu Abbas berkata, malaikat jibril berkata, katakan bismillah wahai Muhammad, bacalah dengan menyebut Allah Tuhanmu, berdirilah, duduklah dengan menyebut Allah”. (Tafsir Ibnu Katsir: I/20-21, Jami’ul Bayan: I/114)

  1. Ismi :

    kata ismi berasal dari kata sumuwwi yang berarti kemuliaan atau keluhuran. Pendapat lain mengatakan bahwa ismi tercetak dari kata simah yang berarti alamat. Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa pendapat yang pertama itu lebih shohih. Dari akar kata tersebut, baik sumuwwi maupun simah dicetak kata ismi yang berarti nama. Mungkin karena itu orang yang baik, terkenal dan mulia biasa disebut orang yang “punya nama”.

  2. Allah :

    adalah nama yang mulia untuk Dzat yang wajib wujudnya yang bersifat dengan sifat-sifat kemuliaan dan jauh dari sifat-sifat kurang. Allah adalah nama yang khusus, tidak digunakan oleh selainNya ﷻ. Para ulama’ menyatakan bahwa Allah ﷻ adalah nama yang paling agung atau ismul a’dhom karena nama Allah ﷻ mencakup semua sifat yang Dia miliki. Ketika orang sakit berkata Ya Allah maka artinya Wahai Dzat yang maha menyembuhkan. Orang yang berada dalam kekurangan dan ia berdoa Ya Allah, artinya dia berkata Wahai Dzat yang maha kaya, orang yang berada dalam kesempitan berkata Ya Allah artinya wahai Dzat yang maha lapang, dan seterusnya.

    Pendapat para Ulama

    Para ulama berbeda pendapat apakah nama Allah ini alam manqul (nama yang mempunyai asal kata) ataukah alam murtajal (nama yang tidak punya asal kata), kebanyakan para ulama’ menyatakan bahwa Allah adalah alam murtajal, tidak tercetak dari kalimat manapun. Ulama yang menyatakan bahwa nama Allah adalah alam manqul (tercetak dari sebuah lafadh yang punya arti tertentu) menjelaskan bahwa nama Allah tercetak dari kata ilahun yang berarti al-ma’bud yaitu Dzat yang disembah, lalu ditambahkan al ta’rif menjadi al-ilahu. Untuk meringankan bacaan maka hamzahnya ilahu dibuang sehingga menjadi Allahu. Setelah ilahun ditambah al ta’rif maka maknanya menjadi khusus, tidak hanya Dzat yang disembah. Tapi Dzat yang disembah secara haq. Banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia tapi satu-satunya yang haq hanyalah Allah ﷻ.

  3. Arrahman :

    Tercetak dari kata rahim atau rahmah. Secara etimologi rahmah mempunyai arti arriqqoh wal ‘uthf artinya kurang lebih lemah lembut dan kasih sayang (attahrir wattanwir: I/104). Arrahman berarti Dzat pemilik rahmat, Dzat yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

  4. Arrahim:

    Mempunyai akar kata yang sama dengan Arrahman. Sebagian ulama’ menyatakan bahwa Rahman dan Rahim adalah dua kata yang mempunyai arti sama. Jumhurul ulama’ menyatakan bahwa pada dasarnya Rahman dan Rahim memang mempunyai arti yang sama, namun tetap mempunyai kandungan dan cakupan yang berbeda. Kedua-duanya berarti Dzat yang Maha pengasih, lemah lembut dan penyayang, namun belas kasihan Allah dalam kata rahman berbeda dengan belas kasih Allah dalam Rahim. Sebagian ulama’ mengartikan Rahman adalah kasih sayang Allah kepada makhluknya dalam bentuk pemberian nikmat yang tampak (dhohir) seperti pemberian rizki, kesehatan, anak, istri dan lain-lain.

     

     

    Rahmat Allah

    Rahmat seperti ini diberikan Allah secara umum untuk seluruh makhluknya, mulai hewan, tumbuhan, jin dan manusia baik beriman ataupun yang kufur. Sedangkan Rahim adalah kasih sayang yang berupa nikmat yang tidak tampak (abstrak) seperti iman, keyakinan, ilmu dan lain-lain. Kebanyakan mufassir mengatakan bahwa Rahman adalah Dzat yang maha pengasih dan penyayang dengan kasih sayang yang umum dan diberikan kepada semua makhuknya di dunia tanpa kecuali. Sedangkan kata Rahim mengandung arti kasih sayang yang khusus yang hanya diperuntukkan orang-orang beriman saja di akhirat.

Pendapat Sayyid Quthub dalam Dhilalil Qur’an :

” Permulaan dengan bismillah adalah adab yang diwahyukan Allah kepada Nabinya dari sejak awal diturunkannya al-Qur’an, yaitu firman Allah Iqra’ bismi rabbika … hal ini sesuai dengan kaidah terbesar dalam pemahaman Islam yakni sesungguhnya Allah “Dialah yang awal dan yang akhir, yang dhohir dan yan bathin”. Allah adalah entitas haqiqi yang darinya terwujud semua hal yang wujud. Darinya segala hal bermula. Maka dengan namaNya segala sesuatu dimulai. Dengan namaNya pula semua gerak terwujud. Dipermulaan ini Allah mengenalkan Dirinya dengan dua shifat Rahman dan Rahim, sifat yang meliputi semua rahmat. Hanya pada Allah dua shifat ini berkumpul …… semua kasih sayang dalam berbagai warna dan bentuknya terwujud dari kedua sifat ini. Maka tergambarlah pemahaman Islam yang kedua, yakni sebuah gambaran tentang hubungan Allah dengan hambanya. Hubungan haqiqi antara Allah dengan hambanya adalah hubungan kasih sayang”. (Dhilalul Qur’an: I/1). Wallahu a’lam

Secuil dari lautan tafsir yang terserak

Sahabat tafaqquh, andaikata laut adalah tinta dan pohon-pohon dibumi pena, maka tak akan bisa menuntaskan tulisan tentang kalimat-kalimat Allah, begitu pula halnya dengan kalimat Bismillahirrohmanirrohim. Tafsir yang bisa kami sampaikan adalah secuil dari lautan tafsir yang terserak dalam berbagai lembaran para mufassir.

Selain karena kedangkalan ilmu kami, juga tidak pada tempatnya kami mengulas makna basmalah ini lebih jauh lagi. Karena maqshudul a’dhom dari kajian tafsir kita adalah mengupas kandungan al-Qur’an berkenaan dengan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, hukum yang berkenaan dengan af’alul mukallaf. Karena itu, tafsir bismillahirrohmanirrohim di atas sudah lebih dari cukup dari segi pemahaman maknanya. Dan selanjutnya –Insya Allah- kita teruskan pembahasan tentang basmalah namun dengan kajian yang berbeda, yakni apakah basmalah termasuk ayat al-fatihah atau bukan? Bagaimanakah hukum bacaan basmalah dalam sholat? Dan lain sebagainya. Jangan lupa doakan kami agar tetap bisa istiqomah.

Wallahu Waliyyuttawfiq

Akhukum fillah

Nidhom Subkhi Rifa’i