Konsultasi ? klik disini!

Pertanyaan: Cukup kah saya membaca terjemahan syarah sebuah kitab hadis untukmemahami dengan baik, karena kemampuan bahasa Arb saya sangat minim, sementara saya ingin belajar agama lebih banyak dan
mendalam dan saya tidak punya cukup waktu untuk kembali ke sekolah
dan belajar kepada guru, intinya bisakah belajar otodidak? Mhon
saranya

Moh. Yasin Tanggerang
agusnadiroh@gmail.com

Wa’alikumus salam
Bismillah ….
Dalam belajar, apalagi belajar Agama, peranan seorang guru amatlah penting. Salah satu fungsi guru adalah sebagai penyambung antara kita dengan sumber pertama pengetahuan Agama yaitu Rasululloh ﷺ. Kita mendapatkan ilmu dari guru kita, guru kita mendapatkannya dari gurunya, gurunya dari gurunya, demikian seterusnya hingga kepada Rasulullah ﷺ. Mata rantai keilmuan inilah yang kemudian dikenal dengan istilah sanad. Dengan adanya sanad, ilmu yang kita peroleh lebih bisa dipertanggung jawabkan.
Abdullah Ibnul Mubarak mengatakan;

الإسناد من الدين ، لولا الإسناد لقال من شاء ما شاء.

“Isnad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada isnad maka siapapun bisa berkata apapun” (al-Baghowi, Syarhus sunnah, I/244)

Apa yang disampaikan para ulama’ ini selaras dengan salah satu atsar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Sirin secara marfu’;
إِنَّ هذَا العِلْمَ دِين ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأخُذونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah bagian dari agama. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”

Atsar ini menjelaskan pada kita betapa pentingnya peran seorang gurum dalam proses tranformasi pengetahuan agama. Begitu pentingnya, hingga kita diperintah untuk betul-betul selektif dalam memilih guru. Karena memilih guru berarti memilih orang untuk mengenalkan kita kepada Agama, lebih jauh lagi mengenalkan kita kepada pencipta kita. Disinalah kita paham pentingnya seorang guru.

Selain sebagai penyambung mata rantai keilmuan kepada Rasulullah ﷺ, peranan guru yang yang lain adalah sebagai pembimbing agar tidak salah dalam memahami sebuah tulisan.
Kitab yang kita baca terkadang (atau sering kali) mengandung ibarat-ibarat atau ungkapan-ungkapan yang tidak mudah dipahami atau mempunyai potensi memberi pemahaman yang salah.
Apalagi jika yang kita baca adalah buku terjemah. Maka kemungkinan kesalahanannya akan semakin besar. Kesalahan itu bisa berupa kesalahan biasa seperti salah tulis (sabqul qolam), kesalahan terjemah, atau terjemah yang terlalu sempit berdasarkan teks bahasa aslinya yang diterjemah langsung ke dalam bahasa kita. Padahal ada kosa kata yang sulit kita ketemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Ada juga kata yang berlaku haqiqat ada yang berlaku majaz (baca Kajian Waroqot tentang pembahasan kalam). Hal-hal seperti ini sering kali tidak terbidik di dalam terjemah.
Dari sini kita bisa maklumi jika kita pernah menjumpai seseorang yang tekun membaca buku-buku terjemahan kemudian mempunyai pemahaman yang “aneh-aneh”, mulai dari pemahaman tajsim (menyatakan bahwa Allah adalah materi) tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), suka sekali menyalahkan amalan orang lain, membid’ahkan, hingga mudah menyematkan label syirik kepada orang atau amalan-amalan tertentu.
Yang lebih berbahaya lagi, apabila di dalam kitab atau buku yang kita baca terdapat sisipan-sisipan pemikiran (tadlis) dari penulis, perubahan redaksi (tahrif), atau terjemah sesuai dengan pola pikir sang penerjemah yang bisa jadi menyelahi pemahaman ulama’ salaf maupun kholaf. Jika ini yang terjadi, maka bukan ilmu agama yang kita peroleh melainkan kesesatan.
Maka dari itu, ilmu itu seharusnya diambil dari penuturan guru yang terpercaya, bukan dari sekedar membaca.
Al-Khothib al-Baghdadi berkata, “Ilmu itu tidak diambil dari buku, akan tetapi ia didapat dari lisan para ulama’.
Abu Hayyan al-Andalusi berkata;
يَظُنُّ الغَمْرُ أنَّ الكُتْبَ تَهْـدِي أَخـَا فَـهْمٍ لِإدْراكِ العُلُـــومِ
وَمـا يَدْرِي الجَـهُولُ بِأنَّ فِيـها غَوامِضَ حَيَّرَتْ عَقْلَ الفَهِيمِ
إِذا رُمْتَ العُلُومَ بِغَيْرِ شَيْــخٍ ضَلَلْتَ عَنِ الصِّراطِ المُسْتَقِيمِ
وتَلْتَبِسُ العُلُومُ عَلَيْكَ حَتَّـى تَصِيرَ أَضَلَّ مِن تُومَا الحَــكِيمِ
نفح الطيب من غصن الأندلس الرطيب (2/ 564)
Banyak orang menyangka bahwa buku-buku
bisa memberi petunjuk hati dalam menemukan ilmu

Orang-orang bodoh tidak mengerti bahwa di dalam kitab-kitab itu
Banyak hal-hal yang samar yang membingungkan akal orang yang cerdas

Jika engkau menginginkan ilmu tanpa guru
Maka engkau akan tersesat dari jalan yang lurus

Banyak perkara tercampuraduk bagimu
Hingga engkau lebih sesat dari Tauma al-Hakim sang dokter otodidak
(Nafhat Thib min Ghusnil Andalus Ar-Rathib, II/564)

Yang dimaksud dokter otodidak dalam bait diatas adalah seorang tabib yang membaca sebuah buku kedokteran tanpa bimbingan seorang guru. celakanya, dalam buku tersebut terdapat tashif atau perubahan redaksi. Ada sebuah kata yang berbunyi

الحية السوداء شفاء من كل داء
“Ular hitam adalah obat segala penyakit”
Begitu resep tersebut dipraktekkan maka segeralah ia memakan korban karena bisa racunular hitam yang mematikan.
Padahal kata hayyat yang berarti ular adalah kesalah tulis dari kata al-habbah. hanya karena tambahan satu titik maka akibatnya sangat fatal.

Kesimpulan dan saran
Membaca buku saja tidak cukup sebagai bekal untuk memahami ilmu agama. Buku, apalagi terjemah sangat mungkin mengandung kesalahan, tahrif (perubahan redaksi asli untuk memasukkan pemahaman tertentu), ungkapan-ungkapan yang berpotensi disalahpahami, dan lain-lain.
Namun demikian, boleh kita menambah pengetahuan dari membaca buku asalkan kita didampingi oleh guru yang berkompeten. Atau kita sudah mendapatkan ilmu sebelumnya dari seorang guru sehingga ilmu itu bisa menjadi filter jika suatu ketika kita menemukan kejanggalan dalam memahami sautu ibarat.
Wallahu a’lam bisshowab
Wassalam

  • Tulisan terbaru
Khodim Ma’had Salafiyyah AsSyafi’iyyah Pulungdowo Malang. CEO & Founder Tafaqquh Media Center Malang. Editor in Chief Tafaqquh.com

Berbagi itu indah!