Konsultasi ? klik disini!

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Sumur saya kemasukan tikus hingga mati di dalamnya. Apakah sumur itu najis? Bagaimana cara mensucikannya? (Khoirul sahong, 0813344xxxxx)

Jawab:

Waalaikumus salam

Cara mensucikan sumur yang kemasukan bangkai adalah sebagai berikut:

a. Jika bangkai tikus itu belum sampai merubah air sumur

seperti menimbulkan bau busuk, maka cukup keluarkan saja bangkainya, dan airnya tetap suci jika volume air sumur 2 qullah. Jika volume airnya kurang dua qullah maka tambahkan air dari luar hingga mencapai dua qullah.

b. Jika airnya sudah berubah maka hukumnya najis.

Cara mensucikannya; ambil bangkainya lalu tambahkan air dari luar hingga air yg berada dalam sumur volumenya mencapai 2 qullah  lalu biarkan hingga baunya hilang dengan sendirinya. Jika volume air sumur sebelumnya sudah mencapai 2 qullah maka tidak perlu menambah air, cukup ambil bangkainya dan biarkan sampai baunya hilang.
c. Jika bangkai tersebut sudah hancur maka di kuras sampai yakin tidak ada sisa bangkai di dalamnya, kemudian tambahkan air sampai dua qullah dan biarkan sampai baunya hilang.

Catatan

2 Qullah = 60 cm (PxTxL) = 187, 385 ltr

Maroji’ :

مغني المحتاج لمعانى المنهاج الجزء الاول ص 126

مهمة: إذا قل ماء البئر وتنجس لم يطهر بالنزح؛ لأنه وإن نزح فقعر البئر يبقى نجسا وقد تنجس جدران البئر أيضا بالنزح بل بالتكثير كأن يترك أو يصب عليه ماء ليكثر، ولو كثر الماءوتفتت فيه شيء نجس كفأرة تمعط شعرها فهو طهور تعسر استعماله باغتراف شيء منه كدلو؛ إذ لا تخلو مما تمعط فينبغي أن ينزح الماء كله ليخرج الشعر معه، فإن كانت العين فوارة وتعسر نزح الجميع نزح ما يغلب على الظن أن الشعر كله خرج معه، فإن اغترف منه قبل النزح ولم يتيقن فيما اغترفه شعرا لم يضر

Mughnil muhtaj, I/126

Penting: jika air sumur sedikit (kurang 2 qullah) dan terkena najis maka tidak bisa suci dengan mengurasnya. Karena jika dikuras maka dasar sumur tetap najis dan dinding sumur juga menjadi najis (karena terciprat air najis). Akan tetapi (mensucikannya) dengan memperbanyak volume air dengan membiarkannya (bertambah sendiri dari sumbernya) atau menambah air (dari luar) agar menjadi banyak.

Jika airnya banyak dan najisnya hancur di dalamnya seperti tikus yang bulu-bulunya sudah terlepas maka air tersebut suci (jika tidak berubah) namun sulit untuk digunakan dengan mencibuknya dengan semisal kaleng, karena air yang diambil pasti akan membawa bagian bangkai yang hancur (sedangkan kalengnya berisi air sedikit). Maka sebaiknya di kuras semuanya untuk mengeluarkan rambut (bagian bangkai yg hancur) jika sumbernya deras dan sulit menguras semuanya maka cukup menguras sebagian sekiranya timbul dugaan kuat bahwa semua bulu-bulu sudah keluar semua.

Jika ia menyiduk air sebelum di kuras dan ia tidak yakin ada bulu yang terbawa maka tidak berbahaya (dihukumi suci) . (Mughnil muhtaj, I/126)

فتح المعين هامش اعانة الطالبين 1 ص 97 – 98

 إذا تنجس ماء البئر القليل بملاقاة نجس لم يطهر بالنزح، بل ينبغي أن لا ينزح ليكثر الماء بنبع أو صب ماء فيه، أو الكثير بتغير به لم يطهر إلا بزواله.

فإن بقيت فيه نجاسة كشعر فأرة ولم يتغير فطهور تعذر استعماله إذ لا يخلو منه دلو فلينزح كله. فإن اغترف قبل النزح ولم يتيقن فيما اغترفه شعرا لم يضر وإن ظنه، عملا بتقديم الاصل على الظاهر.

 

Fathul muin hamisy ianatut tholibin

Jika air sumur yang sedikit terkena najis maka tidak bisa suci dengan dikuras. Tetapi sebaiknya tidak dikuras agar airnya bertambah dari sumbernya atau dengan di tambahkan air kedalamnya.

Jika air sumurnya banyak (2 qullah) dan berubah, maka tidak bisa suci kecuali dengan hilangnya perubahan.

Jika ada najis yang tertinggal seperti bulu tikus namun tidak membuat perubahan air maka mensucikan namun sulit menggunakannya sebab kaleng yang digunakan menimba tidak akan terbebas dari adanya bulu tersebut, maka hendaknya dikuras semua. Bila ia mengambil air sebelum dikuras dan tidak meyakini adanya bulu yg terbawa dlm kaleng maka tidak berbahaya sekalipun ada dugaan hal itu. Hal ini karena mengamalkan kaidah mendahulukan yang asal dari pada yang dhohir. (Fathul muin hamisy ianatut tholibin, I/97-98)

demikian yang bisa kami jelaskan semoga bisa difahami dan bermanfaat.

wallahu a’lam bisshowab.