Konsultasi ? klik disini!

MUQODDIMAH

(Bagian kedua)

Tafsir Basmalah

Bismillahi  terdiri dari bi, ismi, dan Allahi. ‘Bi‘ dalam ilmu nahwu adalah huruf jer yang berfaedah mushohabah ma’at tabarruk, yakni menunjukkan arti bersamaan dan mengaharap keberkahan. Huruf jer selalu berhubungan (ta’alluq) dengan fiil (aktifitas). Kalimat yang menjadi ta’alluqbi‘ ini biasanya disebutkan dalam lafadz, namun tak jarang pula dibuang sepeti pada bismillahi ini. Tidak menyebutkan ta’alluqnya ‘bi‘ ini agar bismillah selalu berta’alluq dengan aktifitas apa saja yang dilalakukan. Ketika mengawali makan misalnya, maka bismillah berarti “bersamaan aku makan, aku mengharap keberkahan nama Allah”, ketika minum artinya menjadi “bersamaan aku minum, aku berharap keberkahan nama Allah”, dan seterusnya sesuai aktifitas apa yang dilakukan. Ismi di ambil dari akar kata sumuwwi yang berarti keluhuran lalu digunakan untuk arti nama. Allah adalah nama untuk Dzat yang wajib wujudnya yang maha sempurna dan terbebas dari sifat kurang.

Arrahman dan arrahim tercetak dari akar kata yang sama yaitu rahima yang mempunyai arti kasih sayang. Jadi sebenarnya kata rahman dan rahim ini mempunyai arti yang sama, bukan arrahman punya arti maha pengasih dan arrahim maha penyayang sebagaimana yang dipahami kebanyakan orang selama ini dari terjemah yang sudah membumi di nusantara. Hanya saja arrahman itu cakupannya lebih luas dari pada arrahim. Arrahman seringkali diartikan maha pengasih dan penyayang seluruh makhluk, di dunia dan di akhirat. Sedangkan arrahim di artikan maha pengasih dan penyayang dengan rahmat yang khusus, rahmat yang hanya diberikan untuk orang-orang yang beriman di akhirat. (Adlwaul Bayan, I/ h.5) Wallahu a’lam  bisshowab.

Lebih lanjut tentang tafsir basmalah serta hukum yang berkaitan dengannya, silahkan sahabat tafaqquh ikuti pada kajian tafsir ayat ahkam dari redaksi tafaqquh.com …. Insya Allah.

ALHAMDU LILLAHI RABBIL ‘ALAMIIN

Setelah mengucapkan basmalah, Syekh Salim bin Abdillah bin Sumair melanjutkannya dengan menyanjungkan pujian kepada Allah ﷻ . Hal ini juga untuk mencontoh serta mengharap keberkahan al-Qur’an. Selain itu juga untuk mengamalkan kandungan hadits yang hampir sama dengan hadits basmalah, namun riwayat hadits hamdalah ini lebih kuat dibanding hadits basmalah.

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِالْحَمْدِ أَقْطَعُ وفى رواية ابى داوود فهو اجذم

setiap perkara baik yang tidak diawali dengan pujian (al-hamdi) itu terputus

(Sunan Ibnu Majah: 1884, Sunan Abu Dawud: 4200 dari Abi Hurairah RA)

Makna Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin

Al-hamdu artinya adalah pujian atas kebaikan. ‘Al‘ yang ada pada al-hamdu itu berfaedah istighraq, yakni mencakup seluruh pujian. Sedangkan lam yang ada pada lillahi itu berfaedah tamlik atau arti milik. Artinya; semua pujian, apapun itu, dari siapapun dan untuk siapapun, hanyalah milik Allah ﷻ  . Seseorang yang memuji atau dipuji orang lain hakikatnya adalah pujian untuk Allah ﷻ.

Para ulama’ membagi pujian menjadi empat (Naylur Roja, h.7)

  1. Hamdul qodim alal qodim, pujian Allah kepada Dzatnya sendiri.
  2. Hamdul qodim alal hadits, pujian Allah kepada makhlukNya
  3. Hamdul hadits alal qodim, pujian makhluk kepada Allah
  4. Hamdul hadits alal hadits, pujian makhluk kepada makhluk
Rabbil ‘alamiin;

rabb berarti pemilik, pengatur, penjaga dan lain-lain yang menunjuk pada arti kekuasaan mutlak dalam mengatur dan  menjaga alam semesta (lihat Ghoyatul Muna, h. 31). Sedangkan alamiin berarti segala sesuatu selain Allah.

Dengan demikian alhamdulillahi rabbil alamin berarti segala macam bentuk pujian hanyalah milik Allah, karena DIAlah satu-satunya Dzat yang menguasai, mengatur, serta menjaga segala sesuatu yang berada di alam semesta ini.

Lebih lengkap mengenai tafsir hamdalah silahkan ikuti kajian tafsir ahkam dari redaksi tafaqquh.com

WABIHI NASTA’INU ‘ALA UMURIDUNYA WADDIN

Hanya kepada Allah kita mohon pertolongan atas urusan-urusan dunia dan agama. Kita mengakui dan meyakini bahwa semua urusan, baik dunia maupun akhirat hanya berada pada kekuasaan Allah semata, bukan yang lain termasuk kemampuan diri kita sendiri. Karena itu sudah sepatutnya kita menggantungkan pertolongan hanya kepada Allah. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surat al-fatihah

اياك نعبد واياك نستعين

Hanya kepadaMU aku menyembah dan hanya padaMu aku memohon pertolongan.

WA SHOLLAHU WA SALLAMA ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN KHOTAMIN NABIYYIN

Semoga Allah ﷻ menambahkan kasih sayangNya serta menambah kemulyaan baginda Nabi Muhammad ﷺ serta memberikan penghormatan yang tinggi kepadanya.

As-Sholat (bentuk tunggal) atau sholawat (bentuk jamak) mempunyai banyak sekali arti. Sholawat bisa berarti doa, tabrik atau memberi keberkahan, rahmat, ampunan dan lain-lain. Sedangkan sholawat yang kita mohonkan kepada Allah untuk Rasulullah, jumhur ulama’ mengatakan bahwa artinya adalah tambahan kasih sayang dan kemuliaan dari Allah untuk Rasululloh (lihat Masalikul Hunafa ila masya’iris sholati alal mushtofa, al-Hafidh Abi Bakar al-Qasthalani). Sedangkan salam mempunyai pengertian at-tahiyyah al-maqrunah bitta’dhim yaitu penghormatan yang diberikan bersamaan dengan adanya keagungan.

Imam Ar-Rofii berkata: “Makna shollahu ala Muhammad adalah semoga Allah mengagungkan Nabi Muhammad ﷺ, di dunia dengan menjunjung tinggi namanya dan melestarikan syari’atnya, di akhirat dengan menerima syafaatnya untuk ummatnya, memperbesar pahalanya, menampakkan keutamaannya kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang akhir dengan kedudukan yang terpuji (al maqomul mahmud) dan mendahulukannya atas semua makhluk” (Naylurroja, h. 9)

Fadlilah Sholawat

Banyak sekali fadlilah atau keutamaan sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ , tentang hal ini sudah banyak sekali kita dengar dan kita baca. kami kira apa yang telah disampaikan para ulama’ baik secara lisan langsung kita dengar atau melalui tulisan mereka sudah cukup menjadi dasar keyakinan kita akan keutamaan bersholawat pada Nabi Muhammad ﷺ. Mungkin dilain waktu kami akan membahasnya jika dirasa perlu.

WALAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYIL ADHIIM

Tiada dan daya dan tiada upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang maha mulia lagi maha agung.

Para ulama membedakan antara hawla dan quwwata sekalipun pada dasarnya mempunyai arti yang sama yakni kekuatan atau kemampuan. Hawla diartikan sebagai kemampuan menahan diri dari melakukan maksiat atau menjauhi larangan. Sedangkan quwwata dimaknai kekuatan melakukan ta’at atau menjalankan perintah. Imam an-Nawawi mengatakan : “La Hawla walaa quwwata adalah ungkapan penyerahan dan kepasrahan. Seorang hamba tidak punya kemampuan sedikitpun dalam semua urusannya. Tidak ada kemampuan untuk menolak keburukan dan tidak ada kekuatan untuk memperoleh kebaikan kecuali dengan kehendak Allah ﷻ” (Faidlul Qodir, I/h. 472)

Fadlilah La Hawla Wala Quwwata Illa Billahi

Banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan Fadlilah la hawla wala quwwata illa billahi. Diantaranya adalah hadits riwayat Al Bukhori (6384)

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ أَوْ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dari Abi Musa RA, beliau berkata “Kami bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan. Ketika jalanan naik kami bertakbir. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai manusia ! kasihanilah diri kalian. Kalian tidak memanggil Dzat yang tuli. Juga bukan Dzat yang hilang. Tetapi kalian memanggil Dzat yang maha mendengar dan maha melihat’. Lalu Nabi mendatangiku sedang aku mengucapkan dalam hati la hawla wala quwwata illah billahi. Lalu Rasululloh bersabda, ‘Wahai Abdulloh bin Qoys ucapkan la hawla wala quwwata illa billahi sesungguhnya ia adalah gedung dari gedung-gedung surga. Atau Beliau berkata, ‘maukah engkau aku tunjukkan kalimat yang menjadi gedung dari gedung-gedung surga? Ia adalah la hawla wala quwwata illa billah“.

 

Wallahu a’lam bisshowab

Malang, 3 Muharram 1438 (00:12)

 

 

Nidhom Subkhi

lanjut kajian ke-3