Konsultasi ? klik disini!

Tafaqquh.com,  

Seorang musafir sedang tidur didalam masjid. Bersama itu ia membawa kantong yang berisi uang, ketika bangun ia kehilangan kantong uangnya. Ia melihat ke sekeliling dan ia tidak mendapati seorangpun di dalam masjid kecuali seorang yang sedang melakukan sholat. Buru-buru ia menuju orang yang sholat tersebut dan memaksanya untuk memutuskan sholatnya. 

Maka orang yang sholat tadi mempercepat sholatnya lalu berkata; ” Ada apakah tuan?”. 

“Aku kehilangan uang dan disini aku tidak melihat orang lain selain dirimu! Pasti engkau yang telah mencuri!”.

“Berapakah uang tuan?”

“Semuanya ada seribu dinar”

“Baiklah … tuan tunggu sebentar biar saya ambilkan uangnya!”

“Kamu pasti akan kabur. Saya akan ikut denganmu!”

“Baiklah … silahkan!”

Akhirnyapun mereka berdua berjalan menuju rumah orang tersebut, hingga ketika sampai dirumahnya lelaki itu mengambil sebuah kantung yang berisi uang 1000 dinar dan kemudian diserahkan kepada si musafir.

Dengan hati lega musafir itu pergi menuju ke penginapannya. Sesampainya dipenginapan ia disambut teman-teman seperjalanannya dengan senda gurau. Salah satu berkata padanya,

“Apakah engkau kehilangan kantongmu?”

“Lho …. kok tau?”

” Ya pasti tahu, karena kami yang membawa kantongmu. Kami bermaksud mengerjaimu karena engkau tertidur dimasjid”

“Haaa … ???” . “Lalu siapakah orang yg telah aku tuduh mencuri tadi? , mengapa ia tidak membantah ketika aku tuduh, bahkan ia telah memberiku uang seribu dinar???”

Bergegaslah ia menuju rumah orang yang telah ia tuduh tadi. Kemudian di tengah perjalanan ia mencari tau siapa sebenarnya orang tersebut. Akhirnya ia mendapatkan informasi bahwa orang yang telah ia tuduh itu adalah Sayyidina Ja’far Asshodiq, putra paman Rosululloh Saw. Semakin berkecamuk hatinya dan semakin ia mempercepat langkahnya menuju ke Rumah sayyidina Ja’far. Sesampainya disana ia menangis meminta maaf seraya mengembalikan uang yang tadi ia terima. Dengan tersenyum sayyidina Ja’far berkata ; “Kami keluarga Rosululloh membalas keburukan dengan kebaikan. Dan harta yang sudah kami berikan pantang untuk kami ambil kembali”.

?Disadur dari kitab Annawadir karya Syeikh Ahmad Syihabuddin al Qulyubi