Konsultasi ? klik disini!

Oleh : KH. DR.H.Fathul Bari 

Tafaqquh.com – Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda :

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” [HR Thabrani]

Dalam agama islam, kelebihan (baca: kemuliaan) seseorang di sisi Allah bukanlah ditentukan oleh faktor rupa dan harta namun karena kadar ketaqwaan dan pekerjaannya sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ».

 “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan pekerjaan kalian.” [HR Muslim]

dan ditegaskan oleh Allah swt : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” [QS Al-Hujurat: 13]

Ath-Thabari rahimahullah berkata:…Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” [Tafsir Ath-Thabari] Ibnu Katsir rahimahullah berkata,  “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari keturunan kalian” [Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim]

Dalam urusan dunia juga demikian, faktor rupa, kaya dan usia seseorang juga bukan penentu kelebihan (baca: senioritas) namun lebih kepada azas manfaat sebagaimana hadits utama di atas. Dalam hadits lain disebutkan ketika ditanya manusia terbaik, Rasul ﷺ bersabda :

مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Orang yang panjang umurnya dan baik pekerjaannya [HR Turmudzi]

Hal ini kiranya perlu diingatkan kembali karena jamak disalah artikan. Dalam kamus besar bahasa indonesia kata senior/se•ni•or/ /sénior/ didefinisikan dengan lebih matang dalam pengalaman dan kemampuan; [web kbbi] Maka usia tidak banyak berpengaruh dalam hal senioritas jika tidak diimbangi dengan keunggulan dalam kematangan dan kemampuan.

Al-Absyihi mengisahkan bahwa suatu ketika Al-Hasan bin al-Fadhl masuk ke istana khalifah yang saat itu sedang berkumpul para ulama (ahli ilmu). Dalam acara tersebut, Al-Hasan bin al-Fadhl bermaksud mengutarakan pendapatnya namun dicegah oleh khalifah karena dianggap masih kanak-kanak dan tidak pantas berbicara dalam forum yang mulia tersebut. Tidak terima dengan senioritas yang salah kaprah, Al-Hasan bin al-Fadhl berkata :

يا أمير المؤمنين إن كنت صبياً، فلست بأصغر من هدهد سليمان ولا أنت بأكبر من سليمان عليه السلام حين قال: أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ 

Wahai Amirul Mu’minin, jika aku dianggap masih kecil maka aku tidaklah lebih kecil dari burung hudhudnya Nabi Sulaiman dan engkau tidak lebih tua dari Nabi Sulaiman AS ketika hudhud berkata kepadanya: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya”[QS An-Naml : 22]

Kemudian ia melanjutkan argumentasinya :

ألم تر أن الله فهم الحكم سليمان ولو كان الأمر بالكبر لكان داود أولى.

Tidakkah engkau mengetahui bahwa telah Allah memberikan pengertian hukum kepada Nabi sulaiman. Jika segala urusan itu ditentukan oleh usia maka Nabi Dawud-lah (Ayah Nabi Sulaiman) yang lebih pantas (untuk mengerti hukum).

Suatu ketika datanglah para utusan ke hadapan khalifat Umar bin Abdul Aziz. Diantara mereka terdapat utusan dari hijaz yang pada gilirannya, seorang pemuda belia hendak memberikan laporan. Sang khalifah mencegahnya dan berkata “hendaklah orang yang lebih senior (tua) dari kamu untuk berbicara, karena ia lebih berhak darimu”. Pemuda itu berkata :

يا أمير المؤمنين لو كان القول كما تقول لكان في مجلسك هذا من هو أحق به منك

“Wahai Amirul Mukminin, jika statement anda benar (yang lebih tua yang berhak) maka ada orang yang lebih berhak atas kedudukanmu dari pada engkau”

Khalifah membenarkan perkataan pemuda tadi dan kemudian mempersilakannya untuk berbicara bahkan khalifah minta petuah darinya. Pemuda berpesan :

يا أمير المؤمنين إن أناساً غرهم حلم الله وثناء الناس عليهم، فلا تكن ممن يغره حلم الله وثناء الناس عليه، فتزل قدمك وتكون من الذين قال الله فيهم: ” ولا تكونوا كالذين قالوا سمعنا وهم لا يسمعون ” .

“Wahai Amirul Mukminin, Banyak orang yang tertipu dengan kebaikan Allah dan pujian manusia kepadanya maka saya mengharapkan agar anda

tidak tertipu dengan hal itu sehingga engkau terpeleset dan termasuk golongan orang yang difirmankan Allah SWT: “dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.[QS Al-Anfal :21]

Khalifah umar begitu terpukau dengan perkataan pemuda yang ternyata masih berusia dua belas tahun. Khalifah umar kemudian bersyair:

تعلم فليس المرء يولد عالماً :: وليس أخو علم كمن هو جاهل

فإن كبير القوم لا علم عنده :: صغير إذا التفت عليه المحافل

Belajarlah, sebab tiada manusia terlahir dalam keadaan berilmu. Tidaklah sama orang berilmu dengan orang yang bodoh karena pembesar dari suatu golongan jika tidak berilmu maka akan menjadi kecil dalam suatu forum perkumpulan. [Al-Mustathraf Fi Kulli Fann Mustathraf]

Kisah diatas mengingatkan saya ketika bertemu dengan seseorang yang mendapatkan jabatan yang tinggi namun ia merasa masih senior sehingga merasa tidak pantas menduduki jabatan tersebut mengingat masih banyak yang lebih senior darinya. Iapun menolak jabatan tersebut hingga tiga kali saat itu. Sayapun memberikan kisah berikut untuk memantapkan hatinya.   

Seorang wanita cantik sebut saja namanya villa, dia sudah bekerja di perusahaan selama 3 tahun namun kecewa melihat seniornya banyak yang sudah naik jabatan. Sampai suatu hari, dia memberanikan diri protes pada si bos, “Pak, apa saya pernah terlambat, pulang duluan atau mengacaukan kantor?” Bosnya langsung menjawab, “Tidak pernah.” Villa: “Kalau gitu, apa perusahaan ini pilih kasih?”. Bosnya menjawab, “Tentu tidak.”

Villa : “Kalau gitu, kenapa pegawai yang baru masuk kok bisa dipromosikan, sedangkan saya tetap di posisi yang sama?”

Bosnya diam sejenak, kemudian tersenyum sambil berkata, “Masalah kamu ini nanti kita bicarakan, aku ada hal yang lebih penting sekarang, atau kamu mau bantu?” “Ada klien yang mau datang ke sini, coba kamu tanya dia kapan datangnya.” Lanjut bosnya. “Ini benar-benar pekerjaan penting ya..” Sebelum keluar, Villa menambahkan.

Satu jam kemudian, ia kembali ke ruangan bosnya. “Udah dikontak?” tanya bos. “Udah, katanya mungkin minggu depan akan datang.” Jawab Villa dengan sigkat. “Pastinya hari apa?” Tanya bosnya lagi “Ini saya gak tanya jelas..” “Mereka berapa orang yang datang?” “Ah! Bapak gak minta saya tanya tadi..” “Kalau gitu mereka datang naik apa? Kereta atau pesawat?” “Ini juga bapak gak minta saya tanya..” 

Bosnya tidak lagi berkata apa-apa, kemudian dia mengangkat telepon dan memanggil Vynna, yang baru masuk ke kantor selama 1 tahun, tapi dia sudah menjabat sebagai supervisor. Vynna mendapatkan tugas yang sama persis. Hanya perlu beberapa menit saja, dia sudah kembali ke ruangan bosnya. “Jadi begini pak” Jelas Vynna.. “Mereka akan datang hari jumat depan, naik pesawat jam 3 sore, kemungkinan jam 6 akan tiba, total 5 orang, akan dipimpin oleh manajer pemasaran, saya sudah menjelaskan pada mereka, kami akan meminta orang untuk menjemput mereka.” “Selain itu, mereka berencana untuk datang selama 2 hari, mengenai schedule mereka, nanti akan dibicarakan lagi bersama bapak. Untuk memudahkan, saya menyarankan untuk memesankan hotel di dekat kantor ini pak, kalau bapak setuju, saya akan memesan kamarnya.” “Oh ya, minggu depan mungkin akan hujan, saya akan mengontak kembali klien tersebut, kalau sampai ada perubahan cuaca, saya akan langsung mengabari mereka.”

Villa berdiri di samping dan mukanya memerah, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia malu dengan dirinya sendiri karena telah salah dalam memahami senioritas dan hari itu ia mendapatkan pelajaran baru mengenai senioritas hingga ia menyadari kesalahannya. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk tidak salah memandang senioritas dan kita menjadi senior sejati tanpa kesombongan.