Konsultasi ? klik disini!

Oleh : Al-Ustadz Fahmi Hamid As-Segaff
Disampaikan dalam pembukaan pengajian Syifaus Saqim karya Habib Muhammad bin Abdillah Al-Haddar di pondok pesantren Salafiyah As-Syafi’iyah Pulungdowo – Tumpang – Malang
Hidayah itu jangan ditunggu sebagaimana kita tidak akan berdiam diri menunggu rizqi. Hidayah itu harus dicari, harus dijemput dan diupayakan sebagaimana kita mencari rizqi yang berupa harta benda.
Rizqi tidak hanya berbentuk uang dan harta benda. Hidayahpun merupakan rizqi, bahkan rizqi yang terbesar.
Rizqi yang berupa hidayah akan selalu kita butuhkan hingga kita pulang ke akhirat, sedangkan rizqi yang berupa uang dan harta benda tidak akan kekal.
Jika rizqi harta benda yang hanya bersifat sementara saja kita tidak pernah lelah untuk mencarinya, bagaimanakah usaha kita untuk memperoleh rizqi hidayah ini? Mengapa rizki harta benda kita kejar sedemikian rupa sedangkan rizqi hidayah kita tunggu dengan berpangku tangan, mengharap ia datang dengan sendirinya???
Jemputlah …. songsonglah …
” إن لربكم في أيام دهركم نفحات، فتعرضوا لها لعله أن يصيبكم نفحة منها فلا تشقون بعدها أبدا “
“Sesungguhnya Tuhan kalian punya hadiah-hadiah yang bermacam-macam. Sambutlah hadiah itu. Barangkali kalian mendapatkan satu hadiah yang membuat kalian tidak akan celaka selama-lamanya.”
Majelis ilmu seperti ini adalah sarana untuk menjemput hidayah Allah. Apalagi didalamnya dibacakan sholawat untuk Rosululloh SAW. Karena sholawat atas Nabi adalah salah satu amalan untuk mendapatkan ampunan dari Allah.
Karena itu …. istiqomahlah mendatangi majelis-majelis ilmu dan dzikir seperti ini, sebagaimana kita istiqomah untuk menjemput rizqi dari Allah.
Kebutuhan kita atas hidayah dan ampunan Allah jauh lebih besar dibanding dengan kebutuhan kita terhadap rizqi yang berupa uang dan harta benda.
Ilmu adalah makanan hati
Sebagaimana tubuh kita yang membutuhkan asupan makanan, hati kitapun demikian. Jika tubuh dalam jangka waktu tertentu tidak menerima makanan ia akan mati. Demikian pula halnya hati kita. Jika ia lama tidak mendapatkan makanan yakni ilmu maka ia akan mengeras dan semakin dibiarkan ia akan semakin mengeras dan akhirnya mati. Wal ‘iyadzu billah.

Ilmu adalah tanda cinta dari Allah

Tanda seseorang dicintai oleh Allah bukanlah banyaknya harta benda, bukan pangkat dan kedudukannya, bukan gemerlapnya dunia. Namun tanda cinta dari Allah adalah ilmu
ان الله يعطى الدنيا لمن يحب ومن لا يحب
ولا يعطى العلم الا من يحب

“Allah memberi dunia kepada orang Ia cintai dan juga orang yang tidak ia cintai. Tapi Allah tidak memberi ilmu kecuali kepada orang yang Ia cintai”

Ilmu adalah pertanda kebaikan

Semua kebaikan itu bersumber dari ilmu. Maka dari itu, jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang maka Allah akan memberinya ilmu
من يرد الله به خيرا يفقهه فى الدين
“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan memberinya kepahaman dalam urusan agama”
Maka dari itu …. hadirilah majelis yang baik ini untuk memuliakan diri kita sendiri. Bukan untuk memuliakan siapapun yang ada disini. Sekali lagi untuk kemuliaan diri kita sendiri!
Bukan majelis ilmu yang butuh kita, tapi kitalah yang butuh kepada majelis ini.
Niatkanlah yang baik karena Allah. Istiqomahlah dalam menuntut ilmu.
Semoga Allah memberi pertolongan kepada kita. Mengumpulkan kita dengan orang-orang yang sholeh. Menjadikan ilmu kita ilmu yang manfaat. Ilmu yang bisa menuntun kita untuk mendapatkan ridloNya, untuk mendapatkan tempat yang dekat di sisiNya dan di sisi kekasih kita … Rasululloh shollallahu alaihi wasallam. Amiiin
Wallahu a’lam bisshowab.