Konsultasi ? klik disini!

Kisah dari Sahabat Abu Darda’ RA.:

Waktu Baginda Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallama shalat berjamaah bersama kita. Tiba-tiba ada anjing mendekat, lalu mati! Setelah shalat selesai, Beliau Nabi SAW. bertanya, “Siapa yang baru saja mendoakan anjing ini?”

Ada salah satu lelaki dari golongan kaum yang menjawab, “Saya, Ya Rasul,”

“Apa yang kau doakan?”

“Hamba berdoa:

اللهم إني أسألك بأن لك الحمد لا إله إلا أنت المنان بديع السموات والأرض، يا ذا الجلال والإكرام اكفني هذا الكلب بما شئت

Ya Tuhan, kupinta pada-Mu, bahwasanya milikMulah segala pujian, tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, Yang Maha Pemberi Nikmat, Pencipta langit dan bumi, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kedermawanan. Cukupkanlah untukku, anjing ini, sesuai kehendak-Mu (Yakni mendapat tempat mulia disisi manusia termulia)’”.

Lalu Baginda Nabi SAW. bersabda, “Dia telah berdoa kepada Allah Ta’ala dengan Nama agung-Nya, yang apabila Dia dimohon dengan nama tersebut niscaya Dia akan mengabulkan, dan apabila Dia diminta dengannya, niscaya Dia akan memberikan”.

Imam Thabrani mengurai sedikit faidah hadist ini: “Shalat yang dilakukan Nabi SAW. tersebut, adalah shalat Ashar pada hari Jum’ah. Dan lelaki yang mendoakan anjing itu adalah Sahabat Sa’d bin Abi Waqqash RA. Kemudian Baginda Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallama bersabda, ‘Hai Sa’d, kau telah berdoa di hari dan jam dengan kalimat yang andai kau buat doa untuk makhluk yang ada dilangit dan bumi, niscaya akan dikabulkan untukmu. Berbahagialah, hei, Sa’d’”.

Satu lagi, sebagai pengingat agar berhati-hati .

Pernah suatu ketika, Aku (Syaikh Ja’far bin Sulaiman) melihat Syaikh Malik bin Dinar RA. asyik bercengkrama dengan seeekor anjing.

“Apa yang anda perbuat dengan anjing ini, wahai Aba Yahya (Julukan Syaikh Malik bin Dinar)” tanyaku.

“Anjing ini, lebih baik daripada teman duduk yang jelek”.

Tapi, dawuh Syaikh Malik bin Dinar ini. Tidak akan bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh orang ampuh penyamar pemabuk yang menginsafkan 40 pemabuk dari 80 geng Ciu. Dan yang ditegur Syaikh Yazid al-Busthami itu. Lihat Usfuriyyah. Ingat kan?! Sebab apa?! Ada modus indah untuk menginsafkan para teman duduknya. Jadi kalau koyah ngoyot hanya akan mengintirkan/menghanyutkan kita, ya, cabut. Kalau tidak kintir, ya, monggo. Kata sesepuh dulu, “Ngintiro, mung ojo kintir”. Begitulah kura-kura hehe… Nggo persiapan babuk siang.

 

Mas Yai Robert alNganjuki

Berbagi itu indah!

Redaksi Tafaqquh

Redaksi Tafaqquh

"Sebuah tim adalah lebih dari sekedar sekumpulan orang. Ini adalah proses memberi dan menerima."
Redaksi Tafaqquh

Latest posts by Redaksi Tafaqquh (see all)