Konsultasi ? klik disini!

Oleh: Redaksi Tafaqquh.com

Para peneliti biografi Imam an-Nawawi mensifati Imam An-Nawawi sebagai salah seorang ulama’ yang zuhud, wara’, mempunyai perhatian besar kepada ilmu yang manfaat dan amal sholeh. Beliau mempunyai kekautan luar biasa dalam menyaurakan kebenaran dan ber amar ma’ruf nahi munkar serta mempunyai rasa takut sekaligus cinta yang luar biasa kepada Allah ﷻ dan RasulNYa ﷺ. Karena sifat-sifat inilah beliau mendapat tempat dihati kaum muslimin. Al-Imam jalaluddin mensifati Imam Nawawi dengan ‘alimul ‘ubbad wa abidul ulama’ atau Ulama’nya para Ahli Ibadah dan ahli ibadahnya para ulama’, zahidul muhaqqiqin muhaqqiquz zahidin, Ahli zuhudnya para peneliti dan penelitinya para ahli zuhud. Imam An-Nawawi mengungguli ulama’ dizamannya salah satunya karena umur beliau yang tidak lebih dari empat puluh lima tahun namun peninggalan ilmiyahnya berupa tulisa-tulisan beliau melebihi ulama’ yang lain.

Nama Lengkap dan Nasabnya

Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Muriy bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam al-Hizamiy al-Hawraniy ad-Dimasyqiy as-Syafiiy. Beliau mendapatkan kunyah (nama yang didahului Abu) Abu Zakariya. Kunyah ini bukan berarti beliau mempunyai seorang putra yang bernama Zakariya sehingga beliau disebut Abu Zakariya (ayahnya Zakariya) melainkan karena tradisi ulama’ dimana bila ada seorang ulama’ bernama Yahya maka akan diberi kunyah Abu Zakariya dengan tujuan iltifat kepada Nabi Zakariya dan Ayahnya Yahya. Mengenai pemberian kunyah pada seseorang ini beliau singgung di dalam kitabnya yang terkenal al-Majmu’ Syarah Muhaddzab, disitu beliau berkata: “Disunnahkan memberi kunyah kepada orang yang mempunyai keutamaan baik laki-laki maupun perempuan, baik dia punya anak atau tidak …”

Selain kunyah Abu Zakariya, Imam An-Nawawi juga mendapat laqob (julukan) Muhyiddin, artinya penghidup Agama. Imam Nawawi sangat tidak setuju dengan laqob ini hingga diriwiyatkan bahwa beliau berkata; “Tidak aku halalkan orang yang memberiku julukan Muhyiddin”. Ungkapan beliau ini menunjukkan ketawadluan beliau. Namun para ulama hampir semua sepakat bahwa Imam An-Nawawi memang pantas mendapatkan julukan ini.

Kelahiran

Beliau dilahirkan pada bulan Muharram 631 H. di sebuah desa yang bernama Nawa sebuah tempat dalam wilayah Syiria kurang lebih berjarak 100 KM dari Damaskus. Beliau tumbuh dewasa di desa tersebut.

Ayah imam Nawawi bercerita; “Nawawi kecil sedang tidur disampingku. Umurnya baru tujuh tahun. Waktu itu adalah malam 27 Ramadlan. Tiba-tiba ia terbangun pada tengah malam lalu ia membangunkanku  dan berkata: “Wahai ayah, cahaya apakah ini yang memenuhi seluruh rumah?”. Maka aku membangunkan seluruh anggota keluarga, namun mereka tidak melihat apa-apa seperti yang dilihat oleh Nawawi kecil”. Ayahnya berkata; “Dari apa yang dilihat anakku, Aku mengerti bahwasanya malam itu adalah malam lailatul qodar”.

Syekh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi menceritakan: “Aku melihat Syekh Muhyiddin (Imam Nawawi) ketika itu ia masih berumur 15 tahun. Bertahun-tahun aku memperhatikannya, aku melihat ia tidak seperti anak-anak pada umumnya. Anak-anak seusianya memaksanya untuk bermain bersama mereka. Namun beliau malah menangis dan berlari menjauhi mereka. Dalam keadaan demikian ia membaca al-Qur’an dan akupun merasa iba kepadanya. Aku juga melihat ia berada di dalam toko atas perintah ayahnya. Namun kesibukan melayani pembeli tidak membuatnya lupa untuk membaca al-Qur’an. Lalu aku mendatangi gurunya yang mengajar al-Qur’an. Aku wasiyatkan kepadanya agar mendidiknya dengan baik, karena aku merasa ia akan menjadi orang paling alim dan paling zuhud di zamannya serta akan banyak manusia yang mengambil manfaat darinya. Pengajar al-Qur’an itu berkata padaku, apakah anda seorang peramal?. Aku jawab, bukan! Hanya saja Allah menggerakkan lidahku untuk berbicara seperti itu. Lalu guru benar-benar mendidiknya dengan sungguh-sungguh hingga Imam Nawawi mengkhatamkan al-Qur’an sebelum beliau baligh.

Dari Nawa ke Damaskus

Ibnul Atthor, murid kesayangan Imam Nawawi menjelaskan, Guruku berkata: ” Ketika umurku 19 tahun aku datang bersama ayahku di Damaskus pada tahun 649 H. lalu aku tinggal di madrasah Rahawiyah. Disana, selama kurang lebih 2 tahun aku tak pernah meletakkan tubuhku di bumi. Dan selama itu aku hanya makan dari roti kasar ransuman madrasah. Aku menghafal kitab At-Tanbih (karangan al-Imam As-Syarazi) selama empat bulan. Dan aku menghafal seperempat ibadat dari kitab al-Muhaddzab pada sisa tahun itu. Aku memberi penjelasan dan mentashihkannya dihadapan guruku al-Alim az-Zahid Abi Ibrohim Ishaq bin Ahmad bin Utsman al-Maghrobi as-Syafi’i dan aku menetap disamping beliau. Guruku ini sangat mencintaiku karena melihat semangatku dalam menuntut ilmu dan tidak banyak bergaul dengan orang. Guruku seringkali menyuruhku mengulang pelajaran dihadapan jama’ah yang banyak”.

Membaca dua belas pelajaran di hadapan para guru besar

Pada tahun 651 Imam Nawawi menunaikan ibadah haji dengan ayahnya. Kemudian beliau teruskan ke Madinah dan beliau menetap di sana kurang lebih satu bulan setengah. Dalam perjalanannya menunaikan ibadah haji itu ayah Imam Nawawi bercerita: “Ketika kami hendak berangkat, ia (Imam Nawawi) mengalami sakit panas. Dan itu terus berlangsung hingga hari ‘Arafah. Selama itu pula aku tidak pernah mendengar dia mengeluh. Ketika kami telah menunaikan ibadah haji dan kami telah kembali menuju Nawa dan kami singgah di Damaskus Allah mencurahkan ilmu kepadanya dengan sangat deras. Ia mengikuti jejak gurunya (Abu Ibrohim Ishaq bin Ahmad) dalam kesungguhan ibadah, puasa, zuhud, wara’, dan tak pernah menyia-nyiakan sedikitpun waktunya hingga ia meninggal”.

Setiap hari, Imam Nawawi membaca dua belas pelajaran di hadapan para guru besar, dengan cara memberi syarah (penjelasan) pada kitab yang beliau baca serta mentashih (memberi koreksi) kitab tersebut. Beliau juga memberi catatan-catatan penting dari setiap pelajaran yang ia baca, memberi syarah pada masalah-masalah yang musykil (Membingungkan) menjelaskan ibarat-ibaratnya serta memberi penjelasan sisi bahasanya.

Sehubungan dengan kesibukan seperti itu beliau berkata: “Allah telah memberiku keberkahan dalam waktu dan aktifitasku dan Allah telah memberikan pertolonganNya”.

Muharram, 1438

Bersambung ke bagian dua

 


 

Ahammul Maraji’:

  1. As-Suyuthi, al-Imam Jalaluddin, al-Minhajus sawiy, Dar Ibnu Hazm, Beirut,1988
  2. Alauddin, Ali bin Ibrahim bin al-Atthor, Tuhfatut Thalibin, al-Dar al-Atsariyyah, Amman, 2007
  3. Al-Ghamidy, Abdul Hamid bin Sholih bin Abdul Karim al-Karroniy, A’dzabur Rowiy fi tarjamati al-Imam an-Nawawi, multaqol madzahib al-fiqhiyyah mmf-4.com
  4. Qodly Syuhbah, Abu Bakar bin Ahmad, Thabaqatus Syafiiyyah al-Kubro, Alamul Kutub, Beirut,1407 H.
  5. As-Subuky, Tajuddin bin Ali bin Abdul Kafy, Thabaqotus Syafiiyyah al-Kubro, Hajr litthaba’ah wan Nasyr, 1413 H.