Konsultasi ? klik disini!

Oleh: Redaksi Tafaqquh.com.

Tafaqquh.com- Ibnul Atthar menceritakan; Setiap hari, Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya AnNawawi membaca dua belas pelajaran di hadapan para guru besar, dengan cara memberi syarah (penjelasan) pada kitab yang beliau baca serta mentashih (memberi koreksi) kitab tersebut.

Dua belas pelajaran itu adalah;

Dua pelajaran dari kitab al-Wasith (kitab fiqih karangan Imam al-Ghazali (w.505) merupakan ringkasan dari kitab al-Basith juga karangan al-Ghazali), satu pelajaran kitab al-Muhaddzab karya as-Syayrazi, satu pelajaran kitab al-Jam’u baynas shahihain (kitab hadits kumpulan dari shohih Bukhori dan shohih Muslim karya al-Hafidh Abi Abdillah Muhammad bin Abi Nashr Futuh al-Humaidi al-Andalusi wafat tahun 488), satu pelajaran kitab shohih Muslim, satu pelajaran kitab al-Luma’ karya Ibnu Junniy (kitab ilmu nahwu karya Abil Fath Utsman Ibnul Junniy wafat 392), satu pelajaran kitab Ishlahul Manthiq (kitab lughoh karya Ibnus Sikkit wafat 244), satu pelajaran ushul fiqih, terkadang dengan membaca al-luma’ karya Abu Ishaq al-Syayrazi (w. 476), terkadang juga dengan menelaah al-Muntakhab karya Imam Fakhruddin Arrazi (w.606), satu pelajaran tentang asmaur rijal (biografi para rawi hadits) dan satu pelajaran tentang ushuluddin.

Imam An-Nawawi Dan Ilmu Pengobatan

Imam An-Nawawi, sebagaimana diceritakan oleh Ibnul Atthar berkata: “Allah ﷻ memberkahi waktu dan kesibukanku dan Dia ﷻ telah memberi pertolongan padaku. Suatu ketika terbersit dalam hatiku untuk mempelajari ilmu thibb (pengobatan/kedokteran), lalu aku membeli kitab al-Qanun (Karya Abu Ali Husain bin Abdillah yang terkenal dengan sebutan Ibnu Sina, wafat 428) dan aku bermaksud untuk mendalaminya. Tiba-tiba hatiku menjadi gelap, berhari-hari aku tidak mampu mempelajari sesuatupun. Aku berfikir dari manakah masuknya sesuatu yang aku rasakan dalam hatiku ini, bagaimana ia bisa masuk kedalam hatiku? Lalu Allah ﷻ mengilhamiku bahwa sesungguhnya penyebab dari gelapnya hatiku adalah menyibukkan diri dengan ilmu pengobatan. Seketika itu aku jual kitab al-Qonun tersebut. Aku keluarkan semua yang berhubungan dengan pengobatan dari dalam kamarku. Maka aku merasa hatiku menjadi terang, keadaanku kembali seperti semula dan aku kembali menekuni apa yang telah aku tekuni dari awal”[1].

Dari Dunia Lain

Imam an-Nawawi bertutur: “Aku pernah mengalami sakit ketika berada di madrasah Rawahiyah. Suatu ketika dimana aku berada di pelataran sebelah timur madrasah dan Ayahku beserta kerabatku tidur didekatku, tiba-tiba Allah ﷻmemberiku rasa semangat dan Ia telah menyembuhkanku dari demam aku derita. Hatiku terdorong untuk berdzikir, maka aku bangun dan aku membaca tasbih. Dalam keadaan demikian tiba-tiba, diantara jelas dan remang-remang aku melihat seorang syekh yang sangat bagus penampilannya serta mempunyai wajah yang tampan. Ia berwudlu dipinggir kolam, ketika itu waktu sudah tengah malam atau mendekati tengah malam.

Hatiku berkata bahwa orang tua ini adalah iblis.

Setelah selesai berwudlu ia mendatangiku lalu berkata; “Anakku, hentikanlah dzikirmu! Karena engkau mengganggu ayah dan saudara-saudaramu dan orang-orang sekitarmu”. Aku berkata, “Wahai Syekh, siapakah engkau?”. Ia berkata; “Aku menasihatimu, dan tak penting bagimu siapa diriku”. Hatiku berkata bahwa orang tua ini adalah iblis. Maka aku mengucapkan “A’udzu billahi minassyaythanirrajim”. Dan aku meneruskan membaca tasbih dengan suara lebih keras. Seketika ia berpaling dariku dan pergi ke arah pintu madrasah. Ayahku dan beberapa orang yang berada di dekatnya terbangun oleh suara tasbihku yang keras. Aku bergegas menuju pintu madrasah diikuti oleh ayahku dan orang-orang yang sudah bangun. Aku melihat bahwa pintu madrasah terkunci, aku mencoba mencari-cari, memperhatikan sekelilingku dan aku tidak menemukan siapa-siapa berada disana. Ayahku berkata, “Wahai Yahya, ada apakah?”. Lalu aku menceritakan apa yang aku lihat kepada ayahku. Kami lalu duduk bersama bertasbih dan berdzikir.

Muharram, 1438
bersambung ….

 


Sebagian Maraji’:

  1. As-Suyuthi, al-Imam Jalaluddin, al-Minhajus sawiy, Dar Ibnu Hazm, Beirut,1988
  2. Alauddin, Ali bin Ibrahim bin al-Atthor, Tuhfatut Thalibin, al-Dar al-Atsariyyah, Amman, 2007
  3. Al-Ghamidy, Abdul Hamid bin Sholih bin Abdul Karim al-Karroniy, A’dzabur Rowiy fi tarjamati al-Imam an-Nawawi, multaqol madzahib al-fiqhiyyah mmf-4.com
  4. Qodly Syuhbah, Abu Bakar bin Ahmad, Thabaqatus Syafiiyyah al-Kubro, Alamul Kutub, Beirut,1407 H.
  5. As-Subuky, Tajuddin bin Ali bin Abdul Kafy, Thabaqotus Syafiiyyah al-Kubro, Hajr litthaba’ah wan Nasyr, 1413 H.

 

[1]Mengenai apa yang dialami oleh Imam An-Nawawi ini, As-Sakhawi memberi komentar bahwa apa yang dialami oleh Imam An-Nawawi ini bertolak belakang dengan apa yang pernah disampaikan oleh Imam As-Syafii dimana beliau mengatakan bahwa ilmu itu ada dua yakni ilmu fiqih untuk urusan agama/ruhani dan ilmu thibb untuk urusan badan/jasmani, selain kedua ilmu itu hanya menjadi bahan perbincangan majlis saja. Menurut As-Sakhawi, gelapnya hati yang dialami oleh Imam An-Nawawi mungkin karena ilmu kedokteran didalam al-Qanun didasarkan pada konsep-konsep filsafat yang bisa jadi tidak sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan Harmalah bin Yahya mempunyai pandangan lain tentang pernyataan Imam Syafii. Menurutnya, apa yang disampaikan Imam Syafii adalah bentuk keprihatian sekaligus motivasi beliau kepada kaum muslimin agar diantara kaum muslimin juga ada yang menekuni bidang kedokteran. Dan tentunya yang diinginkan oleh Imam Syafii adalah ilmu thibb yang selaras dengan syariat.