Konsultasi ? klik disini!

 

Tafaqquh.com – Tulisan ini merupakan uraian jawaban dari pertanyaan beberapa teman tafaqquh tentang hukum wanita haidl membaca dan menyentuh al-Qur’an, terutama mereka yang oleh Allah diberi amanat untuk mengajar al-Qur’an pada anak-anak.

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hukum membaca dan membawa Al-Qur’an bagi orang yang sedang haid. Pendapat Ulama’ tentang hal ini dapat kami jelaskan kurang lebih sebagai berikut.

Hukum membaca al-Qur’an bagi perempuan haidl

Menurut jumhurul ulama (sebagian besar ulama’) orang yang sedang haid tidak diperbolehkan membaca Al-Qur`an.

Hal ini didasarkan kepada beberapa dalil. Di antaranya hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dari Ibnu Umar, Rasulullah ﷺ  bersabda:

لَا تَقْرَأُ الحَائِضُ وَلَا اْلجُنُبُ شَيْئاً مِنَ القُرْآنِ

Tidak boleh orang yang haid dan orang yang dalam keadaan junub membaca ayat Al-Qur`an”  (HR. At –Tirmidzi, al-Baihaqi, Ad-Daruquthni dll.)

Berkenaan dengan hadits ini, para ulama’ memberi penjelasan; seseorang dihukumi membaca al-Qur’an kalau memang di dalam hatinya ada niat membaca al-Qur’an. Jika seseorang melafalkan kalimat-kalimat al-Qur’an tanpa tujuan membaca al-Qur’an, semisal niat berdzikir atau yang lain, maka ia tidak dihukumi membaca al-Qur’an. Karena tidak dihukumi membaca al-Qur’an maka ia boleh dilakukan oleh orang yang haidl.

Al-Imam Ar-Romli dalam penjelasannya atas nadhom Zabad menjelaskan (Ghoyatul Bayan Syarh Zabad Ibnu Ruslan, hal: 104-105):

فَإِن لم يقصدها بِأَن قصد غَيرهَا أَو لم يقْصد شَيْئا فَلَا يحرم لعدم الْإِخْلَال لِأَنَّهُ لَا يكون قُرْآنًا إِلَّا بِالْقَصْدِ كَمَا قَالَه النَّوَوِيّ وَغَيره وَظَاهره أَن ذَلِك جَار فِيمَا يُوجد نظمه فِي غير الْقُرْآن كالبسملة والحمدلة وَمَا لَا يُوجد نظمه إِلَّا فِيهِ كسورة الْإِخْلَاص وَآيَة الْكُرْسِيّ وَهُوَ كَذَلِك خلافًا لبَعْضهِم فِي الشق الثَّانِي

“Bila ia tidak bertujuan membaca al-Qur’an, melainkan tujuan yang lain atau tidak mempunyai tujuan apa-apa, maka tidak haram karena tidak ada unsur merendahkan al-Qur’an. Sebab bacaan itu tidak menjadi al-Qur’an kecuali dengan tujuan (niat). Hal ini sebagaimana yang disampaikan imam Nawawi dan yang lain.

Dhohirnya pendapat ini berlaku untuk bacaan yang rangkaiannya ada di al-Qur’an dan selain al-Qur’an seperti basmalah dan hamdalah, maupun bacaan yang rangkaiannya hanya bisa ditemukan didalam al-Qur’an, seperti surat Al-Ikhlash dan ayat kursi. Dan memang demikianlah hukumnya. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama’ pada masalah yang kedua.”

Sayyid Abdurrohman Ba’alawi dalam Bughyatul Mustarsyidin (h.52)  juga menjelaskan,

وَتَحْرُمُ قِرَاءَةُ القُرْآنِ عَلَى نَحْوِ جُنُبٍ بِقَصْدِ القِرَاءَةِ وَلَوْ مَعَ غَيْرِهَا لَا مَعَ الِإطْلَاقِ عَلَى الرَّاجِحِ وَلَا بِقَصْدِ غَيْرِ الْقِرَاءَةِ كَرَدِّ غَلَطٍ وَتَعْلِيمٍ وَتَبَرُّكٍ وَدُعَاءٍ 

“Dan haram membaca al-Qur`an bagi semisal orang junub dengan tujuan membacanya walaupun dibarengi dengan tujuan lainnya, dan menurut pendapat yang kuat tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya. Dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya (al-Qur`an) seperti membenarkan bacaan yang keliru, mengajarkannya, mencari keberkahan dan berdoa,”. (Abdurrahman Ba’alwi, Bughyah al-Mustarsyidin, Bairut-Dar al-Fikr, h. 52)

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa mengucapkan al-Qur’an dengan tujuan mengajar atau membenarkan bacaan yang salah pada proses belajar mengajar itu diperbolehkan bagi perempuan haidl.  Penjelasan sebagaimana diatas juga bisa diketemukan dalam kitab-kitab yang lain.[1]

Membawa al-Qur’an bagi perempuan haidl

Mayoritas ulama’ menyatakan bahwa wanita haidl haram hukumnya menyentuh al-Qur’an. Hal ini didasarkan pada firman Allah ﷻ

لا يمسه الا المطهرون

Tidak menyentuh al-Qur’an kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 59)

Ayat ini dipertegas dengan sabda Rasulullah ﷺ

أنْ لا يمَس القرْآنَ إلا طاهِرٌ

Tidak boleh menyentuh al-Qur’an kecuali orang-orang yang suci.” (HR. Daruquthni dan Malik)

Secara global, ulama’ sepakat tentang hukum haramnya menyentuh al-Qur’an bagi wanita yang haidl. Namun secara rinci ada perbedaan dalam beberapa hal.

Ibnu Hajar, salah satu ulama’ madzhab Syafii sebagaimana disampaikan oleh al-Bajuri memberi fatwa boleh memegang mushaf bagi orang yang hadats yang mendapati kesulitan dalam mengajar jika harus selalu berwudlu ketika hadats. (Hasyiyah al-Bajuri, Juz I, h. 118)

Solusi dari Madzhab Maliki

Madzhab Maliki memperbolehkan perempuan yang haid membaca Al-Quran secara mutlak. Bahkan bagi perempuan yang mengajar atau diajar (guru-murid) yang dalam kondisi haid boleh juga menyentuh mushaf. Ulama’ madzhab Maliki menganggap bahwa wanita haidl atau nifas tidak mempunyai kemampuan untuk menghilangkan mani’ (penghalang)

يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، إلَّا إذَا كَانَ مُعَلِّمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا، فَيَجُوزُ لَهُمَا مَسُّ الْجُزْءِ وَاللَّوْحِ وَالْمُصْحَفِ الْكَامِلِ، وَإِنْ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمَا حَائِضًا أَوْ نُفَسَاءَ لِعَدَمِ قُدْرَتِهِمَا عَلَى إزَالَةِ الْمَانِعِ. بِخِلَافِ الْجُنُبِ لِقُدْرَتِهِ عَلَى إزَالَتِهِ بِالْغُسْلِ أَوْ التَّيَمُّمِ. وَالْمُتَعَلِّمُ يَشْمَلُ مَنْ ثَقُلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ فَصَارَ يُكَرِّرُهُ فِي الْمُصْحَفِ  

الشرح الصغير   على أقرب المسالك إلى مذهب الإمام مالك، بيروت-دار المعارف، ج، 1، ص. 150

“Haram bagi mukallaf menyentuh mushhaf dan membawanya kecuali dalam kondisi sebagai pengajar atau orang yang belajar maka boleh bagi keduanya menyentuh sebagian  atau papan tulis yang bertuliskan ayat-ayat Al-Quran (lauh) dan seluruh mushhaf meskipun keduanya dalam keadan haid ata nifas kerena ketidakmampuan keduanya untuk menghilangkan penghalang. Hal ini berbeda dengan orang junub karena kemampuannya untuk menghilangkan penghalang dengan mandi atau tayammum” (Abi al-Barakat Ahmad bin Muhamad bin Ahmad ad-Dardidi, Asy-Syarh ash-Shaghir ‘ala Aqrab al-Masalik ila Madzhab al-Imam Malik, Bairut-Dar al-Ma’arif, juz, 1, h. 150).

Kesimpulan

  1. Pengajar al-Qur’an yang sedang dalam keadaan haidl boleh membaca al-Qur’an dengan niat mengajar atau niat dzikir. Tidak boleh dengan niat membaca al-Qur’an.
  2. Tidak diperbolehkan menyentuh al-Qur’an kecuali mengikuti pendapat madzhab Maliki yang memperbolehkan pengajar maupun pelajar al-Qur’an menyentuh mushaf selama masih keluar darah haidl dan tidak boleh ketika darah sudah berhenti.
  3. Hendak nya tetap hati-hati (ihthiyath) dalam membaca atau menyentuh al-Qur’an. Yakni jika masih ada cara lain, semisal dengan menggantikan guru yang berhalangan dengan guru yang lain atau semisalnya, maka cara tersebut hendaknya ditempuh terlebih dulu. Jika keadaan tidak memungkinkan maka boleh mengikuti pendapat di atas. Hal ini untuk menjaga keagungan al-Qur’an sebagaimana perkataan Imam As-Syafii, “Aku ingin orang yang junub dan orang yang haidl agar meninggalkan al-Qur’an (tidak menyentuh atau membacanya) sebagai bentuk kehati-hatian. Karena ada riwayat tentang hal ini (larangan), sekalipun Ahlul Hadits tidak menetapkannya.” (Minhatul Allam Syarh Bulughul Maram, h. 27)

Demikian yang bisa kami sampaikan.

Wallahu a’lam bisshowab

 

 

Nidhom Subkhi Rifa’i

[1] Diantaranya dapat dilihat pada;

  • Al-Qulyubi, Hasyiah Qalyubi wa Umairah, Juz II, hal. 121.
  • Al-Anshori, Al-ghuraar al-bahiyyah fi syarh al-bahjah al-wardiyyah, Juz I, hal. 226.
  • As-Syarbini, Al-iqna’ fi hilli alfaadz abi syuja’, Juz I, hal. 99.
  • Ad-Dimyathi, I’antut Tholibin, Juz I, h. 85. dll