Konsultasi ? klik disini!

Oleh: DR.H.Fathul Bari* 

Tafaqquh.com-Diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al Anshari (AL-Badari) RA , beliau berkata, “Rasulullah SAW mendatangi kami tatkala kami sedang berada di majelis Sa’ad bin Ubadah RA. Maka Basyir bin Sa’ad RA bertanya kepada beliau :

أَمَرَنَا اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ

“Allah telah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadamu, bagaimanakah kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Abu Mas’ud berkata, “Kemudian rasulullah SAW terdiam beberapa lama, sehingga kami berangan-angan seandainya Basyir tidak bertanya kepada beliau. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَالسَّلَامُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ

“Ucapkanlah: “Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberikan kemuliaan kepada Ibrahim. Dan berilah karunia kepada Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta ini, hanya Engau-lah yang Mahaterpuji lagi Mahamulia. Adapun mengucapkan salam maka seperti yang telah kalian ketahui.” [HR Muslim]

Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits tersebut dilatar belakangi turunnya ayat perintah bershalawat dan salam kepada Nabi SAW [QS. Al-Ahzab 56]. Lantas beliau memberikan faidahnya :

وفي هذا أن من أمر بشيء لا يفهم مراده يسأل عنه ليعلم ما يأتي به

Dipetik dari hadits ini bahwasannya seseorang yang diperintahkan mengerjakan sesuatu sedangkan ia tidak mengetahui maksud perntah tersebut maka hendaknya ia menanyakannya supaya ia tahu apa yang harus ia lakukan [Syarah Muslim]

Redaksi shalawat di atas lazim dikenal dengan shalawat ibrahimiyyah yang kita baca ketika tayahhud dalam shalat dan memang menurut al-Qadli (Iyadl Rahimahullah), menurut qaul adzhar (yang lebih jelas) redaksi shalawat yang ditanyakan memang dalam konteks shalat sehingga imam muslim mendatangkan riwayat hadits ini dalam bab shalat. [Syarah Muslim]

Adapun salam yang telah diajarkan oleh Rasul SAW dan diketahui oleh para sahabat adalah ucapan :

السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته

Semoga terlimpah kepadamu wahai nabi, keselamatan, rahmat Allah dan barakah-Nya. [Syarah Muslim]

Lalu siapakah yang dimaksud “Alihi” (keluarga) beliau dalam shalawat tersebut? Dalam hal ini ada beberapa pendapat: 1. Mereka adalah semua Ummat Muhammad SAW dan pendapat ini adalah pendapat yang paling jelas (adzhar) yang dipilih oleh Imam Al-Azhari dan para pentahqiq (peneliti). 2. Mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutthalib secara khusus. 3. Mereka adalah ahlu bayt beliau yaitu istri-istri Nabi dan anak keturunannya secara khusus. [Syarah Muslim]

Selanjutnya, bagaimana dengan redaksi shalawat yang tidak diajarkan langsung oleh Nabi SAW susunan redaksinya (Ghair Ma’tsur) seperti shalawat nariyah, shalawat munjiyah, shalawat fatih dan lainnya? Apakah boleh dibaca dan diamalkan? Apakah tidak termasuk Bid’ah sebagaimana dituduhkan?

Patut diketahui bahwa para sahabat gemar bershalawat kepada Nabi, diantaranya adalah Abdullah bin Mas’ud RA, bahkan ia mengajarkan redaksi shalawat lain yang berbeda dengan yang di ajarkan oleh Nabi. Abdullah bin Mas’ud RA : “Apabila kalian bershalawat kepada Rasulullah SAW, maka buatlah redaksi shalawat yang bagus kepada beliau, siapa tahu shalawat kalian itu disampaikan kepada beliau.” Mereka bertanya: “Ajarikan kepada kami (hal itu)” Beliau menjawab: “Katakan :

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ إِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ

Ya Allah jadikanlah segala shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada sayyid para rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa, pamungkas para nabi, yaitu Muhamm ad hamba dan rasul-Mu, pemimpin dan pengarah kebaikan dan rasul yang membawa rahmat. Ya Allah anugerahilah beliau maqam terpuji yang menjadi harapan orang-¬orang terdahulu dan orang-orang terkemudian.”

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Ya Allah, berikanlah kemuliaan kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberikan kemuliaan kepada Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji dan maha agung. Dan berilah karunia kepada Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji dan maha agung.” [HR Ibnu Majah]

Imam Syafii juga memiliki redaksi shalawat tersendiri. Imam Ghazali meriwayatkan dari Abi al-Hasan, Ia berkata: “Aku bermimpi bertemu dengan Rasul SAW latas aku bertanya: “Ya Rasulallah, Apa balasan yang diterima As-Syafii darimu atas shalawatnya dalam kitabnya Ar-Risalah yaitu :

وصلى الله على محمد كلما ذكره الذاكرون وغفل عن ذكره الغافلون

”Semoga Allah melimpakan shalawat atas Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai lupa menyebut-Mu.”

Maka Nabi SAW menjawab :

جوزي عني أنه لا يوقف للحساب.

Ia mendapatkan balasan dariku bahwasannya ia tidak di hisab (masuk surga tanpa hisab) [Ihya Ulumuddin]

Hal serupa diceritakan oleh Syaikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhaniy (Lahir 1265 H / 1849 M) bahwasannya Imam al-Muzaniy bermimpi bertemu dengan Imam al-Syafi’i dan iapun bertanya apa yang telah diperbuat Allah terhadap dirinya. Imam Syafii berkata : Allah telah mengampuni diriku, memberikan kasih sayang kepadaku dan meninggikan derajatku di surga berkat shalawat yang aku cantumkan di dalam kitab Ar-Risalah. Dan tatkala di pagi hari aku lihat kitab al-Risalah, maka aku temukan shalawat tersebut di dalamnya. [Afdhalus Shalawat Ala Sayyidis Sadat]

Kalaulah demikian, apakah redaksi shalawat yang tidak diajarkan langsung oleh Nabi SAW masih dikatakan sebagai bid’ah (Hal yang baru)? Jika dijawab Ya maka tentunya itu adalah bid’ah hasanah, bid’ah yang baik tentunya.

Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk dapat melihat kebaikan shalawat dengan hati yang bersih dan suci.

Wallahu A’lam.
*Dengan editing seperlunya

Dapatkan artikel lengkap OneDayOneHadith https://telegram.me/alvers