Konsultasi ? klik disini!

Diriwayatkan dari Syaddad bin Aus bahwa Rasulullah saw bersabda :
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang pintar lagi cerdas (Aqil fathin) adalah yang menundukkan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah.” (HR. Tirmidzi dengan status sanad Hasan)

Jika ada pengusaha memiliki renstra jangka panjang bertahap untuk memajukan perusahaannya dan iapun merealisasikan tahapan demi tahapan maka kita meniainya sebagai orang yang pintar, visioner dan sukses. Jika ukuran pintar adalah orang yang jauh memandang masa depan maka yang paling pintar adalah orang mukmin karena ia merencanakan hidupnya bukan hanya untuk 25 tahun ke depan akan tetapi jauh daripada itu bahkan pasca kematian.

Marilah kita menjadi orang yang pintar yang tak tertipu dengan keindahan dunia yang fana. Ada sebuah illustrasi;  Dua orang penyelam berencana mengambil mutiara di dasar laut. Keduanya menyelam, begitu di dasar laut, kedua penyelam itu terkagum-kagum pada keindahan pemandangan dasar laut, yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Orang pertama secara cepat teringat akan tugasnya. Ia begitu terkejut ketika melihat tabung oksigennya yang sudah menipis. Kalau tidak segera mengerjakan tugasnya ia akan mati. Akhirnya ia hanya bisa mengambil mutiara beberapa saja, kemudian naik ke permukaan. Sedangkan orang kedua ia sangat terbius dengan keindahan, akhirnya tidak bisa mengambil apapun. Oksigennya habis sebelum ia sempat mengerjakan tugasnya dan akhirnya iapun dengan susah payah kembali ke darat dengan tangan kosong.

Orang yang hanya mempersiapkan untuk hidup di dunia suatu saat pasti akan mengalami penyesalan seperti yang dialami oleh seorang pria paroh baya yang bercerita kisah sedihnya “Aku memiliki seorang putra, aku pikir aku akan membuat dia bisa membaca dan menulis dan akan menjadi orang besar. Dan kami memberinya pendidikan yang terbaik dengan mengirimnya belajar ke luar negeri. Lalu tiba-tiba ia jatuh sakit dan dokter menyerah dengan keadaannya. Dia menghitung napas terakhirnya dan dia berkata kepadaku. ” Ayah, bawakan semua sertifikat dan ijazahku kemari!!! ” Dia berkata sambil menatapku . ” Ayah, Ini semua gelarku, tapi ayah tidak mengajariku Al-Qur’an,  Bagaimana aku akan menghadap Allah ? “ Aku berdiri di depannya dan dalam beberapa saat dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Maka jadilah kita sebagai orang mukmin yang pintar yang bersegera mengambil bekal di dunia ini untuk kepentingan jangka panjang yaitu akhirat. Ibnu Abbas Ra berkata :
 إن الله جعل  الدنيا ثلاثة أجزاء : جزء للمؤمن وجزء للمنافق وجزء للكافر ، فالمؤمن يتزود ،  والمنافق يتزين ، والكافر يتمتع .

“Sesungguhnya Allah membagi dunia ke dalam 3 bagian : Sebagian untuk Mukmin, Sebagian untuk munafik, dan Sebagian untuk kafir. Mukmin menyiapkan bekal, Orang munafik berhias, sedang Orang kafir bersenang-senang”. [Ihya Ulum ad-Din : II/396] Wallahu A’lam. Semoga Allah albari menjadikan semua anggota grup ini sebagai orang-orang yang mukmin yang pintar yang tidak terlena dengan keindahan dunia yang fana. Amin

Salam satu hadits,

Dr.H.Fathul Bari Badruddin.