Konsultasi ? klik disini!

Oleh: Syukron Ma’mun Aro, MA.*

Anggota Jiwa

Nabi Muhammad SAW telah mengungkapkan pada saat akan hijarah dari Mekah ke Madinah, bahwa orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi : seks, materi, dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi). Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan nabati itu. Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Tapi jiwa mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud al-qalbi). Anggota jiwa dalam Al-Qur’an diantaranya adalah qalb (hati), ruh (roh), aql (akal), dan iradah (kehendak). demikian pula A. Mubarok menyebutkan dengan istilah sistem nafsani dalam Al-Qur’annya yaitu : Qalb, ‘Aql, Bashiroh, Syahwat dan Hawa ( Hati, Akal, Nurani, Keinginan dan Nafsu). Al-Qur’an menyebut kata nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata ta’aqilun (berakal), dan 6 kali kata ruh-arwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia, yaitu sinergi semua, buka independensi masing-masing anggotanya.

Peran Hati

Nabi menjelaskan peran qalb (hati) dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb (hati). Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih Bukhari).

Karena begitu menentukannya fungsi hati itulah Allah hanya melihat hati manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal). Sejatinya, hati adalah wajah lain dari nafs (jiwa), maka dari itu hati atau jiwa manusia itu bertingkat-tingkat. Para ulama menemukan tujuh tingkatan jiwa dari dalam al-Qur’an:

Tujuh tingkatan jiwa dari dalam al -Qur’an

  Pertama, nafsu pendorong kejahatan ( nafs al ammârah bi al su’). Ini adalah tingkat nafs paling rendah yang melahirkan sifat-sifat seperti takabbur, kerakusan, kecemburuan, nafsu syahwat, ghibah, bakhil dan sebagainya. Nafsu ini harus diperangi.

     Kedua, jiwa yang mencaci (nafs al-lawwamah ) ini adalah jiwa yang memiliki tingkat kesadaran awal melawan nafs yang pertama. Dengan adanya bisikan dari hatinya, jiwa menyadari kelemahannya dan kembali kepada kemurniannya. Jika ini berhasil maka ia akan dapat meningkatkan diri kepada tingkat diatasnya.

     Tingkat ketiga adalah jiwa yang terilhami (nafs al Mulhamah). Ini adalah tingkat jiwa yang memiliki tindakan dan kehendak yang tinggi. Jiwa ini lebih selektif dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika jiwa ini merasa terpuruk kedalam kenistiaan, segera akan terilhami untuk mensucikan amal dan niatnya.

       Keempat, jiwa yang tenang (nafs al mutma’innah). Jiwa ini telah mantap imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang telah menomor duakan nikmat materi.

      Kelima, jiwa yang rela (nafs al radhiyah). Pada tingkatan ini jiwa telah ikhlas menerima keadaan dirinya. Rasa hajatnya kepada Allah begitu besar. Jiwa inilah yang diibaratkan dalam doa: Ilâhî anta maqsûdî wa ridhâka matlûbi (Tuhanku engkau tujuanku dan ridha-Mu adalah kebutuhanku). Keenam,  jiwa yang berbahagia (nafs al mardhiyyah). Tidak ada lagi keluhan, kemarahan, kekesalan. Perilakunya tenang, dorongan perut dan syhawatnya tidak lagi bergejolak dominan.

    Ketujuh, (Nafs al-Shafiyah) jiwa yang tulus murni. Pada tingkat ini seseorang dapat disifati sebagai Insan Kamil atau manusia sempurna. Jiwanya pasrah pada Allah dan mendapat petunjukNya. Jiwanya sejalan dengan kehendakNya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam dan tenang.

Perang melawan nafsu

Begitulah jiwa manusia. Ada pergulatan antara jiwa hewani yang jahat dengan jiwa yang tenang. Ada peningkatan pada jiwa-jiwanya yang tenang itu. Sahabat Rasulullah SAW Sufyan al Tsauri pernah mengatakan bahwa beliau tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih kuat dari nafsunya; terkadang nafsu itu memusuhinya dan terkadang membantunya. Ibn Taymiyyah menggambarkan pergulatan itu bersumber dari dua bisikan: bisikan syetan (lammat al syaitan) dan bisikan malaikat (lammat al malak). Perang melawan nafsu jahat banyak caranya. Sahabat Nabi Yahya ibn Mu’adh al Razi memberikan tipsnya. Ada empat pedang untuk memerangi nafsu jahat: makanlah sedikit, tidurlah sedikit, bicaralah sedikit dan sabarlah ketika orang melukaimu, maka nafs atau ego itu akan menuruti jalan ketaatan, seperti penunggang kuda dalam medan perang. Memerangi nafsu jahat ini menurut Nabi adalah jihad.

Sabda Rasul ;

وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ

“Pejuang adalah orang yang memperjuangkan nafs-nya dalam mentaati Allah” (HR Ahmad Ibn Hanbal)[1]

 Secara Kodrati, manusia membutuhkan bimbingan, ini dapat dimengerti dari beberapa kebutuhan dasar manusia itu sendiri sesuai dengan perkembangannya. Baik kebutuhan yang menyangkut perkembangan fisik maupun mental. Secara fisik manusia selalu berkembang mulai dari proses kehamilan, sebagaimana telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya sampai kepada fase-fase berikutnya. Demikian pula dengan perkembangan kepribadiannya, manusia berkembang seiring usia dan masa yang dilaluinya.

 

Wallahu A’lam Bisshawab.

 

Jakarta, 15 Oktober 2016

 

*Syukron Makmun Aro, MA

Kontributor Tafaqquh.com

Aktifis Dakwah dan Praktisi Pendidikan

Tinggal di Jakarta

 

[1] Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad, (Mauqi’ al Islam), Juz 4, h. 487, hadist no 22833 dari Fadlalah Ibn ‘Ubaid.