Konsultasi ? klik disini!

Tafaqquh.com – Bagi anda yang tidak atau belum pernah merasakan keunikan mencari ilmu di pondok pesantren, khususnya pesantren-pesantren jawa tradisional atau pesantren salaf, anda mungkin kurang “ngeh” dengan judul diatas.

Metode “Utawi iki iku”, penulis menyebutnya demikian karena tidak ada nama paten untuk metode ini. Kami sebut metode karena “utawi iki iku” dirancang sedemikian rupa guna mempermudah para santri dalam memahami teks-teks keagamaan yang bertebaran dalam berbagai literatur kitab kuning.  

Sedangkan “utawi iki iku” adalah bagian dari translet kitab kuning kedalam bahasa jawa. Kami pilih kosa kata “utawi iki iku” karena hampir setiap bab bahkan frase dalam  kitab kuning dimulai dengan adanya mubtada dan khobar. Dalam bahasa jawa pesantren diterjemah dengan utawi iki iku. 

Tulisan ini tidak bermaksud menjelaskan apa dan bagaimanakah metode ini. Juga tidak akan menjelaskan apa pengaruhnya atas hasil belajar para santri. Karena pembahasan seperti ini lebih pantas untuk menjadi judul skripsi atau tesis. Dan tentunya akan memakan banyak tempat untuk memuatnya dan yang pasti akan membosankan. Bagi anda yang masih belum paham apa itu utawi iki iku kami sarankan datang saja ke pesantren-pesantren salaf. Anda bisa belajar disana atau sekedar melepas keingintahuan. 

Tulisan ini hanya sekedar catatan penulis tentang apa yang dirasakan oleh penulis dalam kurun waktu sekian lama menggunakan metode ini. Jadi … tulisan ini bersifat dzauqiyah yakni “rasa”  atau perasaan. Maka … silahkan anda menilainya sendiri. 

Baiklah, … “utawi iki iku ono fasal suwiji” demikian yang sering didengar oleh penulis dan ribuan santri atau alumni pondok pesantren. Sebuah cara yang terkesan “ndeso” dan “kuno”. 

Namun, dibalik ke-ndeso-an dan ke-kuno-an metode ini, di dalamnya terdapat sejumlah keistimewaan yang tidak berlebihan jika kita katakan “luar biasa”.

Untuk menyampaikan (membacakan) sebuah kitab dengan cara ini seorang kiai atau ustadz dituntut untuk mempunyai kompetensi yang handal dalam berbagai hal.

Penguasaan Gramatika Arab yang Mumpuni

Dalam pemaknaan kitab dengan metode “utawi iki iku” ada yang disebut dengan istilah tarkib. Tarkib adalah pemberian simbul huruf-huruf tertentu dengan makna tertentu yang menunjukkan kedudukan suatu lafadh. Misalkan lafadz yang menjadi mubtada’ diberi tanda mim kecil diatasnya. Mim ini merupakan singkatan dari mubtada’ yang kemudian ditranslet ke dalam bahasa jawa sehingga tanda mim kecil itu terbaca utawi. Kalimat yang menjadi khobar di tandai dengan tulisan kho’ kecil diatasnya yang dibaca iku.

Selain itu, pembacaan kitab dengan cara ini berarti membaca kitab kata perkata. Tidak satupun kita yang bisa terlewati. Itu artinya, masing-masing kata dalam kitab tersebut harus dimengerti kedudukan, i’rob, tashrif, makna dan lainnya.  

Setiap kata akan terbaca secara benar, baik dari segi nahwu, shorof maupun balaghohnya.

Tidak ada satupun kata bahkan huruf yang terlewatkan untuk dipahami dan dikaji.

Bahkan … ketika satu kalimat mengandung makna yang tersirat, pun juga tak akan luput dari perhatian.

Kejelian dan ketelitian

Jika anda membaca terjemah basmalah versi bahasa indonesia yang umum kita dengar, maka anda menemukan terjemah “dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”. Tanpa mengurangi hormat kami pada si empunya terjemah, terjemah seperti ini nampaknya masih ada celah kekurangannya.

Kata pengasih dan penyayang adalah dua kata yang sama-sama dimiliki oleh kata arrohman dan kata arrohim.

Arrohman mempunyai arti pengasih dan juga penyayang demikian pula kata arrohim, karena kedua kata tersebut berasal dari akar kata yang sama dan kedua-duanya adalah kata sifat. Untuk membedakannya para ulama’ nusantara telah merumuskan maknanya dengan sangat indah. Makna ini jika ditelisik merupakan kesimpulan dari beberapa tafsir yang sudah ditelaah secara seksama. Para ulama’ nusantara memberi makna berbeda antara arrohman dan arrohim. Arrohman diberi makna kang moho welas asih ingdalem dunyo lan akhirot kabeh makhluk (yang maha pengasih dan penyayang di dunia dan akhirat kepada semua makhluk) . Sedangkan arrohim diberi makna kang moho welas asih ingdalem akhirat beloko wong mukmin (yang maha pengasih dan penyayang di akhirat saja untuk orang-orang yang beriman).

Pemaknaan dengan melibatkan tafsir seperti ini akan banyak dijumpai di pondok – pondok pesantren salafiyah. Ketika ada kalimat yang mengandung unsur tasybih atau majaz atau penyerupaan maka sang kiai akan memberinya makna lengkap sesuai dengan kaidah ilmu balaghoh, sehingga terlihat mana musyabbah (yang diserupakan) mana musyabbah bih (yang diserupai) mana wajah syabah (sisi kesamaannya), yang kadang kala semua ini tidak tertulis dalam teks arabnya dan hanya bisa dimengerti dengan piranti ilmu sastra arab yang memadai.

Sarana untuk menyambungkan rantai keilmuan

Seorang kiai biasanya akan membacakan kitab yang dulu pernah ia kaji dari gurunya lengkap dengan makna yang ia peroleh dari gurunya tersebut.

Kitab sekaligus makna yang ia peroleh inilah yang nantinya akan digunakan sebagai bahan atau rujukan utama untuk membacakan kitab kepada santri-santrinya.

Dengan demikian, proses tansformasi ilmu berlangsung secara tasalsul, sambung menyambung hingga hingga hal-hal yang kecil dan detail.

Seorang pembaca kitab biasanya akan menyampaikan makna sesuai dengan makna yang dulu pernah dia peroleh dari gurunya. Jika ada makna yang kurang sesuai, pembaca akan tetap menyampaikannya apa adanya dengan tambahan keterangan. Misalkan, “ini makna dari guru saya begini, tapi “la’allas showab” menurut saya begini.

La ‘allas showab berarti “mungkin yang benar”, sebuah cara yang indah, mengkritisi sambil tetap menjaga adab atau tata krama.

Merawat Budaya Lokal

Bahasa yang digunakan dalam memberi makna utawi iki iku biasanya bukanlah bahasa sehari-hari. Bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa lama yang saat ini sudah jarang atau bahkan tidak digunakan dalam konteks berkomunikasi sehari-hari.

Jika anda mencari-cari kata utawi dalam percakapan sehari-hari maka sampai kapanpun anda tidak akan pernah menemukan. Ada juga kata keduwe, pepéko, manjing, miyos, drapun, rojo koyo dan lain-lain. Kata-kata ini sudah “hilang dari peredaran” bahasa jawa. Namun berkat tradisi utawi iki iku, kosa kata jawa seperti diatas minimal masih dikenal dan digunakan sekalipun dalam komunitas tertentu.

Maka, dengan memberi makna “utawi iki iku” tanpa disadari telah memberi kontribusi besar kelastarian budaya lokal terutama dalam aspek bahasa seperti diatas.

Sebenarnya masih banyak manfaat yang bisa digali dari metode utawi iki iku tersebut. Namun karena keterbatasan, penulis tidak bisa menjelaskan lebih panjang lagi.

Utawi Iki Iku Ono Pungkasan 

Satu lagi yang penulis anggap sebuah keistimewaan metode ini. KEIKHLASAN. Ya … keikhlasan, karena hingga saat ini belum ada satupun keterangan yang bisa menjelaskan secara gamblang siapa sebenarnya pencetus atau pencipta metode ini.

Nampaknya, beliau sengaja membenamkan diri. Tidak ingin dikenal atau dikenang sebagai seorang yang telah berjasa untuk sekian juta santri dan juga kiai yang telah menggunakan metode ini.

Akhirnya …. semoga utawi iki iku masih terus terdengar dari balik bilik-bilik santri di pesantren-pesantren diseluruh nusantara.

Dan bagi anda yang masih bingung atau belum memahami sepenuhnya dengan tulisan ini, kami sarankan “ayo mondok”. Ayo ber utawi iki iku bersama kami.

Wallahu A’lam bis Showab

Utawi Alloh iku Dzat kang moho pirso kelawan perkoro kang bener. 



17 Oktober 2017

Dalam sayup-sayup 1000 bait Ibnu Malik

Pondok Pesantren salafiyah As-Syafi’iyah.
Nidhom Subkhi