Konsultasi ? klik disini!

Tafaqquh.com-Kisah cinta seringkali mengharu biru, sekalipun kadang -bahkan kebanyakan- sebenarnya bukanlah cerita cinta, tapi “cerita nafsu” yang dibungkus dengan jubah suci yang bernama cinta. Tapi, ini bukan tentang cerita cinta seperti itu. Bukan dongeng putri salju, bukan legenda cinta Roro Anteng dan Joko Seger, Sam Pek – Eng Tay dari negeri tirai bambu atau romantika dari lembaran-lembaran “imajinasi” Shakespeare yang berhasil menyihir para pecinta dongeng. Bukan pula balada cinta dari India atau drama tangis Korea yang membuat banyak Ibu-ibu menangis “termehek-mehek” berpadu padan menimbulkan nada sumbang dengan tangisan anaknya yang merengek-rengek memohon pelukan hangat sang bunda.

Ini adalah cerita tentang cinta yang sejati, cinta yang bertumpu pada logika robbani, cinta yang dipantik dengan api rasa transenden. Cinta yang membubung menembus cakrawala, melintasi batas ruang dan waktu. Inilah cinta …. sudahkah kita memiliki ?

Cahaya membelah pagi

Menghentak penduduk bumi dari lelapnya tidur dalam gelap yang menghitam

Pilar-pilar kegelapan luruh diterpa cahaya

Sinar terang berjalan mengelilingi dunia 

Keselamatan berjalan dengan wajah sumringah

Mengobati dahaga padang luas nan tandus

Duhai penghulu dua dunia, duhai mata air petunjuk

Duhai kebahagian setiap sudut dunia

Leherku saja, jangan lehermu  

Ketika orang-orang musyrik mengepung Rasululloh SAW pada waktu perang uhud, gelora cinta para sahabat terbakar. Bergegas mereka melindungi Rasululloh SAW. Mereka menjadikan tubuh mereka sebagai perisai Rasululloh SAW.

Abu Tholhah berlari mengambil posisi dihadapan Rasululloh SAW. Ia membusungkan dadanya untuk menerima anak panah yang mengarah kepada Rasululloh SAW. Dengan gagah perkasa ia berkata; “Biar leherku saja, asal jangan lehermu Ya Rasulalloh !”.

Dari arah lain, Abu Dujanah melindungi punggung Rasulloh SAW. Anak panah mengenainya, menembus tubuhnya, darahpun berceceran. Abu Dujanah tak bergeming, tidak bergeser sedikitpun telapak kakinya dari sisi Rasulloh SAW. Ia melindungi Rasululloh hingga tetes darah terakhir.

Sementara itu, tiba-tiba batu besar menggelinding dari punggung uhud menuju Rasululloh SAW. Dengan sigap Tholhah bin Ubaidillah meloncat dan dengan sekuat tenaga menahan laju batu agar tak menimpa kekasihnya, Muhammad SAW. Tenaganya kalah dengan beratnya batu itu, maka ia menyediakan diri sebagai pengganjal batu agar tidak menggelinding. Ia duduk dibawahnya dan membiarkan batu itu menggilas dirinya. Maka batu itu berhenti di atasnya. Rasululloh SAW berkata, “Tholhah pasti masuk surga

Semua Musibah Itu Ringan Asal Tidak Menimpamu

Seorang Perempuan Anshor ditinggal mati oleh suami, ayah, dan saudaranya dalam peperangan Uhud. Ketika hal ini dikabarkan padanya, tahukah apa yang dikatakan perempuan malang ini? Ia tidak meratapi kepergian suaminya. Ia tidak mempertanyakan bagaimana ia akan menjalani hari-harinya tanpa suami? Ia juga tidak meratapi kepergian ayah dan saudaranya. Perempuan itu justru bertanya, “Bagaimanakah Rasululloh? Apa yang terjadi dengannya?” Para sahabat menenangkannya, mereka menjelaskan bahwa Rasululloh SAW dalam keadaan baik, tak kurang apapun. Tak lega perempuan itu dengan penjelasan para sahabat, ia pun berkata, “Antarkan aku ke tempat Rasululloh! Agar aku bisa melihat sendiri keadaannya”. Diantarlah perempuan ini menuju Rasululloh SAW, begitu ia melihat Rasululloh, serta merta ia berkata, “Semua musibah itu ringan asal tidak menimpamu“. 

Imam Darul Hijroh

Imam Malik, ketika disebut disampingnya nama Rasulullah SAW, maka berubahlah wajahnya menjadi pucat pasi, lalu beliau membungkuk seperti orang memberi hormat. Ketika Beliau ditanya mengapa demikian? Beliau menjawab, “Andaikan kalian melihat apa yang aku lihat, merasakan apa yang aku rasakan, maka kalian tidak akan mengingkari apa yg aku lakukan“. Imam Malik berkata, “Selama ini aku tidak pernah bertanya tentang satu Hadits Rasulullah kepada Ibnul Munkadir kecuali aku melihatnya menangis tersedu-sedu hingga aku merasa kasihan padanya”. Itulah ekspresi cinta. Layakkah dipertanyakan, manakah dalilnya? Bukankah Nabi tidak menyuruhnya? Bukankah sebaliknya Rasulullah SAW melarang sahabat-sahabatnya berdiri apalagi membungkuk untuk menghormartinya? 

Berikan Kedua Matamu

Tsabit al-Bannani adalah seorang tabi’in yang kecintaanya kepada Rosululloh tak bisa terbendung. Beliau banyak meriwaytkan hadits dari Anas bin Malik. terdorong oleh kerinduannya kepada Nabi Muhammad SAW, suatu ketika ia berkata pada Anas bin Malik, “Berikan kedua matamu yang telah memandang Rasululloh! Biarkan aku mengecupnya!“.

Bisakah kita memahaminya tanpa melibatkan cinta? Bisakah kita pahami dengan bertanya mana dalilnya? Inilah ekspresi cinta.

Ambil Diriku Segera

Abdah Binti Kholid bin Ma’dan berkata, “Kholid tidak pernah beranjak ke tempat tidur kecuali ia menyebut-nyebut kerinduannya kepada Rasulullah dan para sahabat muhajirin dan anshor. Ia menyebut nama-nama mereka. Ia berkata; Aku adalah bagian dari mereka, mereka adalah bagian dariku , kepada mereka hatiku mendamba, lama nian kerinduanku pada mereka, Tuhan … segeralah ambil diriku! Ia terus berkata seperti itu hingga ia tertidur.

Akankah kita pertanyakan mengapa Ma’dan berkata demikian? Bolehkah meminta segera mati kepada Allah? Bagaimana hukumnya? Apa dasarnya? Mana dalilnya?

Bilal Sang Muadzin

Setelah ditinggal wafat oleh Rasululloh, Bilal bin Rabah tak pernah lagi mengumandangkan suara untuk adzan. Bahkan beliau meninggalkan Madinah menuju Yaman. Konon, hal ini beliau lakukan karena beliau tak mampu menahan kerinduannya kepada Rasululloh. Setiap sudut kota Madinah mengingatkannya akan kebersamaannya dengan Rasululloh, hingga semakin tersiksa hatinya karena kerinduan.

Adakah yang mempertanyakan mengapa Bilal meninggalkan ke-ajek-annya mengumandangkan adzan? Padahal itu adalah amal ibadah yang bernilai tinggi, bahkan itu adalah “tugas khusus” dari Rasululloh. Mengapa pula Bilal meninggalkan Madinah? Bukankah tinggal di Madinah adalah suatu fadlilah? Itulah ekspresi cinta.

Ini adalah sekelumit ekspresi cinta yang terekam sejarah. Cinta untuk seseorang yang memang sangat patut untuk dicintai, cinta yang menjadi tolok ukur keimanan.

Sahabat! Tulisan ini tidak bermaksud “memaksa” siapapun untuk setuju dengan maulid. Tidak pula untuk berperang dalil boleh atau tidak. Semuanya bisa kita bicarkan nanti. Kami percaya bahwa mereka yang tidak setuju dengan maulid karena “mungkin” mereka semua telah berada pada taraf cinta yang besar kepada Rasululloh. Rasululloh SAW “mungkin” telah berada dalam hati mereka. Mereka mungkin tidak butuh acara “peringatan” karena mereka sudah selalu ingat. Kami percaya. Dan biarkan kami percaya.

Tapi … bagi “sebagian kita” yang lain, merasa belum mendapatkan “rasa” itu. Mereka selalu curiga kepada hati mereka sendiri, sudahkah ia dipenuhi rasa cinta itu. Mereka butuh “peringatan” karena merasa bahwa hati mereka masih sering lupa. Mereka berpikiran bahwa hari-hari mereka terlalu penuh dengan urusan duniawi. Maka dibulan ini, bulan Rabi’ul Awal, bulan kelahiran Nabi ini, mereka , termasuk kami,  seperti mendapat suplai daya untuk menambah cinta kami. Kami merasakan atmosfir yang menyejukkan sekaligus mengharukan di bulan ini.

Akhirnya

Kami ucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Semoga bertambah cinta kita kepada Nabi seiring dengan bertambahnya gugu-tuhu, tunduk dan patuh kita kepadanya. Ekspresikan cinta dengan sesuatu yang membuatnya mencintai kita, bangga pada kita. Bukan ekspresi yang membuat Beliau “sedih” bahkan tak “menaruh hati” pada kita karena ekspresi yang salah. Bagi yang tidak setuju, masih banyak hal positif yang bisa kita lakukan untuk kekasih kita Muhammad. Biarkanlah saudara kita mencurahkan kerinduannya. Jika ada yang tidak sesuai, ingatkan dengan cinta, bukan dengan amarah dan benci apalagi caci maki. Jika anda kemukakan dalil, kami juga yakin bahwa yang memperingati Maulid tak akan kekurangan dalil.

Endingnya ….. kita sama-sama mencintai Rasululloh atau berusaha mencintainya dengan benar. Biarkan masing-masing mengeksperisakannya dengan cara yang berbeda-beda.

wallahu a’lam bisshowab. 

Seiring gerimis yang menentramkan di pagi hari, 9 Maulid 1438

salam cinta dari kami

Redaksi Tafaqquh dotkom