Konsultasi ? klik disini!

Akhir-akhir banyak tokoh yang tampil memukau didepan kamera, secara live, dihujani pertanyaan dan sang tokoh selalu bisa menjawabnya dengan sangat cepat (dan tepat???). Begitu lancarnya fatwa itu di ucapkan. Hampir pasti setiap pertanyaan selalu bisa dijawab dengan cepat, bahkan kadang nyaris tanpa jeda berpikir. Penulis belum pernah menjumpai (mungkin keterbatasan penulis) seorang penceramah, muballigh, ustadz, atau ustadzah yang tidak bisa menjawab pertanyaan audient, lalu berkata, “maaf saya tidak bisa menjawab. Saya tidak mengerti”.
Kenyataan ini berbanding terbalik dengan mbahnya para ulama’, yaitu para sahabat Nabi, tabi’in dan para ulama setelahnya dari para imam-imam mujtahid.
Ibnu Abi Layla (w. 83 H) bercerita; “Aku menjumpai seratus dua puluh sahabat Nabi SAW dari kalangan anshor. Diantara mereka ada yang bertanya tentang satu masalah kepada sahabat yang lain. Sahabat yang ditanya menanyakan masalah itu kepada sahabat yang lain. Sahabat yang lain menanyakannya kepada sahabat yang lain lagi. Begitu seterusnya hingga pertanyaan itu kembali ke penanya pertama.” (Ibnu Sholah, Adabul Mufti wal Mustafti, I/75).
Muhammad bin Abu Bakar Asshiddiq (w. 101 H), seorang imam yang alim, faqih, banyak menyimpan dan meriwayatkan hadits, putra kekasih Rasulullah, Abu Bakar Asshiddiq, pernah ditanya satu masalah oleh seseorang dan beliau menjawab, “La Uhsinuhu”, artinya “Aku tidak memahaminya”. Dan ketika orang itu terus ngeyel meminta jawaban, Muhammad bin Abu Bakar pun berkata, “Jangan kau menunggu hingga jenggotku panjang dan banyak orang di sekelilingku. Demi Allah pemahamanku tidak begitu baik”. “Demi Allah … jika lidahku terpotong, itu lebih aku senangi dari pada aku berbicara sesuatu yang tidak ada ilmu bagiku di dalamnya”. (ibid, 78)
Seseorang datang kepada Imam Malik untuk menanyakan pertanyaan yang sudah beberapa hari ia sampaikan dan belum mendapat jawaban dari Imam Malik. Ketika pertanyaan itu disampaikan lagi kepada Imam Malik, beliau malah berkata, “Maa Syaa Allah … mengertilah bahwa aku hanya berbicara jika aku anggap ada kebaikan di dalamnya. Dan mohon maaf, aku tidak mempunyai pemahaman yang baik tentang masalahmu ini. Aku tidak tahu”
Bukan hanya sekali itu saja imam Malik dengan tegas tidak menjawab sebuah pertanyaan yang diajukan kepada beliau. Beliau pernah disodori empat puluh delapan pertanyaan, beliau hanya menjawab 6 pertanyaan. 32 pertanyaan lain beliau jawab la adri, “Aku tidak mengerti”. Pernah juga beliau ditanya 40 pertanyaan beliau hanya menjawab lima masalah. Bahkan diceritakan, pernah beliau memberi jawaban “Aku tidak mengerti” ketika ditanya oleh seseorang padahal ia telah menempuh perjalanan enam bulan untuk bertemu Imam Malik.
Dengan kecewa orang itu berkata kepada Imam Malik, “Wahai Imam Malik ! lalu apa yang nanti akan aku sampaikan kepada orang-orang kampung jika aku kembali kepada mereka. Padahal mereka telah berharap mendapat jawaban dari tuan.” Dengan tenang Imam Malik berkata, “Katakan saja pada mereka bahwa Malik berkata aku tidak mengerti.”
Saking seringnya Imam Malik berkata “la adri” sampai-sampai Ibnu Wahb berkata, “Jika aku mau, aku dapat memenuhi catatanku dengan perkataan Imam Malik “la adri”.”(siyaru a’lamin nubala’, VIII/97)
Lalu ……. Bagiamanakah jika apa yang dilakukan oleh Imam Malik itu sekarang dilakukan oleh para tokoh kita di televisi-televisi dan media lainnya? Ah … entahlah.

Wallahu A’lam bisshowab.

Langgar Bambu
Pesantren salafiyah As-Syafi’iyah
Nidhom subkhi

20 Jumadal Ula 1439

  • Tulisan terbaru
Khodim Ma’had Salafiyyah AsSyafi’iyyah Pulungdowo Malang. CEO & Founder Tafaqquh Media Center Malang. Editor in Chief Tafaqquh.com

Berbagi itu indah!