Konsultasi ? klik disini!

Judul diatas sengaja dibuat pendek, bahkan sangat pendek. Anda bisa mengatakan tidak spesifik atau tidak fokus. Sekali lagi, memang sengaja dibuat seperti itu. Alasanya, kali ini redaksi  tafaqquh.com sedang tidak ingin membahas fiqih dengan perspektif “biasa”. Sebaliknya, redaksi ingin mengetengahkan wajah fiqih secara lebih umum, lebih universal atau bahasa kerennya lebih ​ syumul.

Dulu, pada masa permulaan, tidak ada dikotomi ilmu. Semua melebur menjadi satu kesatuan ilmu yang “wutuh weluh”, ilmu yang integral.

Pengetahuan pada masa itu disampaikan, dibahas, serta dipraktikkan sebagai sebuah konsep utuh tentang bagaimana ‘mengenal’ dan ‘berbakti’ kepada Sang Khaliq. Tidak ada terminologi ilmu kalam, akhlaq, fiqih, atau yang lain. Semua dibahas dalam sebuah keterkaitan yang sangat indah, kokoh, dan ‘berdayaguna’ tinggi. Dari konsep utuh inilah kita bisa melihat kesempurnaan Islam lahir batin dari pribadi para sahabat. Betapa mereka benar-benar memahami serta dapat mengaktualisasi ajaran Agama secara sempurna. Tidak banyak kita ketemukan riwayat yang menceritakan mereka berdebat sengit tentang hukum halal haram. Justru kita merekam banyak dari mereka tentang bagaimana mereka amat “profesional” menjadi hamba Allah sekaligus kholifahNYA di muka bumi.

Inilah mengapa Allah SWT ketika memerintahkan kita untuk memahami agama, cukup dengan ungkapan “liyatafaqqohuu fiddin”, “agar mereka memahami agama”.

Kata liyatafaqqohu yang berasal dari fiil madli dan mudlori’ tafaqqoha, yatafaqqohu dengan tambahan lam ta’lil adala​ h derivasi dari kata fiqih.

Jauh panggang dari api jika yang dimaksud fiqih dalam kandungan ayat tersebut adalah fiqih sebagaimana yang kita pahami dari definisi yang telah kita pelajari, yakni ilmu tentang hukum-hukum amaliyah yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci.

Mengapa? Karena fiqih dengan pengertian ini menjadi sesuatu yang sempit. Ia akan berkutat tentang halal dan haram dalam sebuah dialog konstan hitam-putih. Fiqih “hanya” akan menjawab pertanyaan “apa hukumnya …?”

Sekalipun ini penting dan tidak bisa dipandang sebelah mata, namun untuk mencapai tujuan suci dari Agama Islam kiranya tidak cukup berhenti sampai pada jawaban pertanyaan apa hukumnya. Ia membutuhkan penalaran dalam koridor keimanan, kehambaan serta tugas manusia sebagai kholifah fil ardli.

Manusia dicipta bukan sebagai robot yang hanya tersusun dari perangkat keras untuk kemudian dinilai dari gerak-geriknya saja. Manusia dicipta dengan melibatkan rasa. Ada akal, nafsu, hati dan juga jiwa. Memahami agama, mau tidak mau tidak bisa dipisahkan dari rasa tersebut

Berbicara fiqih murni dalam arti halal dan haram kadang menjadikannya terperangkap dalam situasi tersebut diatas. Yakni situasi menjadi manusia layaknya sebuah robot. Dari sini kita bisa memahami ungkapan yang disampaikan oleh Abu Hanifah:

الفقه هو معرفة النفس ما لها وما علیها

“Fiqih adalah mengenal diri sendiri, apa yang manfaat untuk dirinya dan apa yang berbahaya bagi dirinya.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa fiqih bukan sekedar berbicara halal dan haram. Akan tetapi lebih dari itu ia berbicara tentang diri, tentang jiwa, tentang segala sesuatu dan akibatnya bagi jiwa, sekarang dan akan datang.

Jadi, apapun yang kita pelajari asalkan bermuara pada pemahaman diri sebagai hamba Allah lalu pemahaman itu menimbulkan rasa takut dalam kerinduan atau rindu dalam ketakutan kepada Allah maka itu adalah fiqih.

Akhirnya semoga kita benar-benar hamba Allah yang dikehendaki menjadi baik olehNYA. Baik di dunia, baik juga di akhirat sebagaimana sabda Baginda Nabi :

من یرد االله به خیرا یفقهه فى الدین

“Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan memberinya fiqih didalam agama” .

Wallahu A’lam bisshowab.

Malang, Selepas Sholat jum’at 3 maret 2017

Nidhom Subkhi