Konsultasi ? klik disini!

Oleh: Nidhom Subkhi 

Berita bohong dan fitnah selalu menemukan momennya untuk hadir bahkan ikut mewarnai setiap jengkal dari sejarah hidup manusia. Sejarah berita bohong tertulis jelas dalam kitab-kitab suci sejak perjalanan manusia baru saja dimulai dan terus berlanjut hingga jaman dimana teknologi hampir-hampir “mengistirahatkan” otak dan hati manusia. Berita bohong selalu berhasil tampil sekalipun dengan nama yang selalu update. Kabar burung, kasak kusuk, gosip, fitnah, irjaf, isyaah dan yang terupdate disebut hoax adalah nama-nama yang mengarah kepada sajian berita sampah yang tidak jelas kebenarannya. Tulisan ini mencoba menampilkan kembali kisah hoax yang tercatat dalam al-Qur’an melalui kisah Nabi Adam alaihissalam agar bisa kita ambil pelajarannya tentang pola pemberitaan yang tidak bertanggung jawab.  

HOAX PERTAMA 

Hoax pertama dalam sejarah manusia terjadi bahkan ketika manusia belum menginjakkan kakinya di dunia, hoax ini terjadi di alam surga. Ya … di surga. Bagi orang yang beriman ini adalah realita, karena kabar ini dari Dia yang maha benar dengan segala firmanNya. 

Al-Qur’an al-Karim menginformasikan pada kita pada surat al-A’raf, ayat 19-22. 

Ayat 19; Fakta 

(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim“.

Inilah faktanya, pohon tersebut tidak sepatutnya didekati. Mendekatinya akan menimbulkan bahaya, menjadi golongan orang-orang yang dhalim. 

Fakta diungkapkan secara wajar dan mengalir ‘apa adanya’ tidak perlu gegap gempita, tidak ada ungkapan berlebih. Fakta ini di dapat dari sumber pertama yang paling kredibel, paling terpercaya, yaitu Allah SWT.

Ayat 20; Hoax Dan Pemelintiran Berita

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)“. 

Inilah hoaxnya, pohon itu pohon sakti, pohon keramat, jika dimakan akan menjadikan seseorang abadi atau menjadi malaikat. 

Jika fakta disampaikan apa adanya, maka sebaliknya hoax disampaikan dengan penuh kata-kata bombastis, tidak lazim dan sangat ‘menggoda’. 

Hoax tidak mungkin dari sumber pertama yang kredibel. Hoax dibikin oleh pihak dengan kredibilitas sangat rendah. Ia mengolahnya sehingga menjadi berita yang ‘wow…. Menakjubkan!’. 

Selain itu, kata waswasa yang berada pada frase awal ayat 20 ini, yang berarti membisikkkan pikiran jahat, menurut Ibnu Asyur dalam attahrir wat tanwir berarti memberi berita dengan cara samar, tidak menampakkan diri. (Ibn Asyur, vol.VIII, h. 152) Penyebar hoax biasannya akan berlindung dibalik akun-akun palsu, nama samaran, atau yang sejenis untuk mengelabui pembaca. 

Ayat 21; Pemanis Berita 

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”

Pola ini masih sangat manjur untuk mengelabui penerima berita. Coba bandingkan dengan kata-kata ini, “Sebarkan agar lebih banyak ummat yang tercerahkan”, “Nasihat berharga ini jangan berhenti di hp anda! Sebarkan, agar menjadi pahala bagi anda!”. “Sebarkan ke sepuluh teman atau grup anda, bersiap-siaplah untuk menerima rizki yang tak disangka-sangka”. Begitulah, tak penting validitas berita itu. Yang penting adalah seberapa ‘heboh’ berita itu. 

Ayat 22; Setan Adalah Musuhmu

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (ayat 22)

Di ayat yang terakhir ini Allah menunjukkan siapa sejatinya si pembuat berita. Ia adalah musuhmu. 

Musuh dalam dunia modern bisa berupa lawan bisnis, lawan politik, atau rival dalam urusan apapun. Persaingan bisnis terkadang mendorong seseorang atau perusahaan untuk membuat berita yang tidak bertanggung jawab mengenai produk dari lawan bisnisnya. Demikian pula persaingan dalam jabatan politis, bahkan persaingan politik dan perebutan pengaruh sangat mudah memicu perang berita. 

Selain sebagai musuh, setan juga mempunyai karakter yang buruk. Antara lain, keinginan terbesarnya adalah menyebarkan permusuhan (al-‘Adawah) dan kebencian (al-baghdla’) (QS. Al-Maidah:91). Maka, berita yang bersifat provokatif, menghasut dan menyebarkan kebencian adalah indikasi awal bahwa berita tersebut adalah hoax.  

Selain itu, setan adalah icon dari kredibilitas dan integritas yang teramat rendah. Tukang bohong, tukang fitnah, membuat orang bertengkar adalah “aktifitas” utama setan. Maka dari itu meneliti keabsahan satu berita, tidak bisa tidak, harus meneliti kredibilitas dan integritas sumber berita. Banyaknya situs “abal-abal”, portal berita yang berprinsip asal viral dan meraih pengunjung dan rating setinggi-tingginya, para pemakai media sosial yang “gila jempol” adalah hal-hal yang perlu diwaspadai. 

Wallahu a’lam bis showab