Konsultasi ? klik disini!

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ قَالَ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنْ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضَهُمْ الْعَصْرُ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ
(Shohih Bukhori:894)

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Asma’ berkata, telah menceritakan kepada kami Juwairiyah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami ketika beliau kembali dari perang Ahzab: “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian shalat ‘Ashar keculi di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu tibalah waktu shalat ketika mereka masih di jalan, sebagian dari mereka berkata, ‘Kami tidak akan shalat kecuali telah sampai tujuan’, dan sebagian lain berkata, ‘Bahkan kami akan melaksanakan shalat, sebab beliau tidaklah bermaksud demikian’. Maka kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau tidak mencela seorang pun dari mereka.”

Perbedaan pendapat diantara para Sahabat

Kisah ini adalah sebuah contoh perbedaan pendapat diantara sahabat. Sebagian menyikapi sabda Rosulloh dengan mengambil ruh atau spirit di dalam dawuh Beliau. Perintah Rosululloh itu mereka artikan sebagai perintah bergegas menuju Bani Quroidhoh sebelum tiba waktu ashar, bukan pada masalah “dimana kita sholat” melainkan masalah “Kapan kita harus sampai”. Mafhumnya ……  ketika waktu asar hampir habis dan mereka belum sampai di Bani Quraidhoh maka sholat ashar dilakukan di perjalanan. Sedangkan satu kelompok lagi memaknai perintah Rosululloh secara tekstual alias apa adanya. Mereka tidak akan mengerjakan sholat ashar kecuali ditempat yang telah disebutkan oleh Baginda Nabi, sekalipun waktu ashar sudah habis.

Ketika berita ini sampai pada Rosululloh, sama sekali Beliau tidak mencela salah satu dari keduanya. Dan juga tidak ada riwayat yang menceritakan bahwa kedua kelompok itu bersitegang karena perbedaan pendapat, apalagi mengolok-olok atau menuduh “Kamu sesat”.

Sekarang ….

Tengoklah keadaan kita ummat Islam saat ini! Ada diantara kita orang-orang atau kelompok yang karena taasshub pada pemikiran tokoh mereka, mereka menganggap semua yang berada diluar pendapat mereka adalah sesat, ahlul bid’ah, ahlul ahwa’ ….. bahkan syirik dan kufur !!!

Mereka tidak mau menerima sekalipun pendapat yang berseberangan dengan mereka itu juga ditopang dengan hujjah dan dalil. Walau memang beda sudut pandang dan manhaj istidlalnya. Intinya ….. Ukuran kebenaran adalah pola pikir mereka! Kebenaran adalah pendapat mereka ! Pendapat tokoh mereka! …… Seakan-akan merekalah representasi Al Qur’an dan Sunnah. Sedangkan yang lain adalah representasi ahwa’ dan bid’ah.

Mereka ‘lupa’ atau memang tidak mau menerima bahwa al-Qur’an dan Sunnah yang mereka maksud juga bisa difahami berbeda oleh kelompok lain sebagaimana kisah dalam hadits diatas. Tidak ada dalam fikiran mereka bahwa al Qur’an dan Sunnah lebih luas dari madzhab mereka. Sebaliknya …. Islam dalam madzhab dan fikiran mereka menjadi sangat sempit dan kaku.

Ada baiknya kita menengok kebelakang,

Dimana para pendahulu kita, para pemikir yang brilian, para imam-imam madzhab hidup damai dalam perbedaan. Bagaimana Imam Syafii memuliakan imam Ahmad, hingga diriwayatkan bahwa imam Syafii bertabarruk dengan air bekas cucian jubah Imam Ahmad (Az-Zarqoni, Manahilul Irfan, II/32) . Imam Syafii juga kerap menziarahi pusara imam Abu Hanifah (Khothib Al Baghdadi; Tarikh Bagdad I/123). Jangan lupakan pula Imam Malik yang menolak permintaan Harun Arrosyid agar madzhab Imam Malik menjadi madzhab resmi negara saat itu, hingga muncul sebuah ujaran yang terkenal

اختلاف الامة رحمة

“Perbedaan pendapat diantara ummat adalah rahmat” (Azzarqoni, ibid)

Akhirnya, semoga kita bisa menjadi genarasi yang dapat dibanggakan oleh para pendahulunya. Tidak saja mewarisi kekayaan intelektulitas yang superior akan tetapi juga ketinggian akhlaq serta keluasan hati dalam menerima perbedaan.

Wallohu a’lam

Malang, 30 september 2016

Nidhom Subkhi